I Gusti Ketut Widana (BP/Dokumen)

Oleh I Gusti Ketut Widana

Hakikat ritual sejatinya adalah simbolisasi tataran filosofis (tattwa) ke dalam tingkatan yadnya (acara) yang diharapkan terimplementasi ke dalam tatanan perilaku (susila). Ibarat tumbuhan, elemen tattwa (substansi ajaran) adalah pohonnya, praktik ritual (unsur materi) bunganya, sedangkan bagian perilaku berkesusilaan (esensi) buahnya.

Setiap upacara yadnya baru dikatakan berhasil (sidhaning don) bukan karena sudah selesai dilaksanakan (sidhakarya) melainkan ketika umat telah menunjukkan perilaku sejalan makna dibalik simbol ritual. Jika tidak, akan berbuah “simalakama”. Tak melaksanakan ritual dianggap mengingkari kewajiban, namun setelah dijalankan, ternyata belum atau bahkan tidak selaras dengan makna ritual dimaksud.

Begitupun pelaksanaan ritual Tumpek Bubuh pada Sabtu Kliwon wuku Wariga. Secara Tattwa (teologi-filosofi) mengandung makna pemujaan Hyang Widhi dalam manifestasi Dewa Sangkara, dengan harapan agar berkah anugerah berupa sarwa tumuwuh (tumbuhan/pepohonan) dengan beragam hasilnya dapat menghidupi segenap makhluk secara berkelanjutan. Sedangkan dalam konteks Acara (praktik yadnya), dilakukan persembahan bubur (bubuh) pada tumbuhan/pohon tertentu disertai sarana sesaji (bebanten).

Baca juga:  Memberdayakan Emak-emak Melalui Literasi

Pertanyaan mendasar, apakah hanya dengan pemahaman Tattwa dan pelaksanaan Acara, harapan agar beraneka tumbuhan/pepohonan bisa tumbuh berkembang lalu menjadikan bumi (gumi) atau dunia (jagat) ini gemuh bin landuh (subur-makmur)? Ternyata tidak cukup dengan haturan bubuh saja, diperlukan juga sikap teguh dan kukuh disertai kucuran peluh (keringat) dalam bentuk Susila, perilaku
kongkrit menjaga, merawat dan kemudian melestarikan alam dengan beragam sumber daya
hayatinya.

Contoh, upacara mulang pakelem di danau (Danu kertih) atau laut (Samudra kertih), dengan cara menenggelamkan berbagai jenis hewan/binatang. Tentu akan sia-sia jika sifat hewaniah (kebinatangan) manusia berupa keserakahan (loba) tetap ajeg. Kata Mahatma Gandhi, “bumi/dunia ini sebenarnya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup seluruh makhluk, kecuali keserekahan manusia”.

Segala doa permohonan yang mengiringi prosesi ritual sebesar apapun dipastikan tidak akan berpengaruh signifikan bila perilaku manusia tidak bersahabat atau berkhianat dengan terus membabat sumber daya alam yang semestinya diselamatkan
kesinambungannya. Bukan untuk kepentingan hajat hidup sesaat, tetapi demi keberlangsungan hidup makhluk.

Baca juga:  Optimalkan Pengawasan Pasar Tradisional

Sebab bumi beserta isinya bukan warisan leluhur melainkan titipan anak cucu yang wajib dipikirkan kebertahanan kehidupannya sejak saat ini. Tepat sekali konsep Sad Kertih diterapkan sebagai satu kesatuan. Seperti halnya ritual Tumpek Bubuh (Tumpek Wariga) dikorelasikan dengan upacara Wana Kertih (pelestarian hutan), sesuai Instruksi Gubernur Bali Nomor 06 Tahun 2022 tentang Perayaan Rahina
Tumpek Wariga Dengan Upacara Wana Kertih.

Lebih relevan lagi bila dikaitkan juga dengan Jana Kertih (manusia sebagai pelaku utama), Atma Kertih (sebagai bagian dari psiko-kosmos– jiwa alam semesta) sehingga terwujudlah apa yang namanya Jagat Kertih (kesejahteraan dan kebahagiaan bumi) — dengan hutannya yang terus tumbuh berkembang menjadikan dunia ini gemuh (subur) dan landuh (makmur).

Kata kuncinya tetap pada manusia yang seharusnya memiliki jiwa/spirit cinta lingkungan– memanusiakan lingkungan. Memerlakukan segenap isi alam sebagaimana merawat/memelihara diri sendiri — sarwam idham kuthem bhukem : semua makhluk adalah ciptaan Tuhan dan sebagai Tuhan itu juga.

Baca juga:  Tumpek Bubuh, "Gebuh" di Wacana

Jika menyakiti, apalagi merusak tatanan kehidupan segenap makhluk sama artinya dengan melawan hukum rta (kodrat) — menentang kehendak Tuhan.
Kitab Ishavasya Upanishad 1 dari Shukla Yajur Veda menegaskan, Ishavasyam idam sarvam — seluruh alam semesta ini harus dipandang sebagai Tuhan.

Sedangkan Atharva Veda 12.1.12 menyatakan, Mata Bhoomih: Putro Aham Pruthivayah. — Ibu Pertiwi ini adalah Ibu kita bersama dan kita semua adalah putra-putri dari Ibu ini.

Kutipan kitab Niti Sastra I. 10 pun memberikan teladan perihal pentingnya manusia bersahabat dengan alam (hutan) yang dianalogikan antara singa dan hutan: Singa adalah penjaga hutan. Hutan pun selalu melindungi Singa, Singa dan hutan harus selalu saling melindungi dan bekerjasama.

Sudah saatnya, ritual Tumpek Bubuh, dijadikan momentum mewujudkan bumi dengan hutannya agar tumbuh-gemuh-landuh, bukan sebaliknya rapuh dan runtuh oleh ulah manusia yang elah aluh nguluh—dengan gampang menelan/menekan atau bahkan merusak alam berserta segala isinya.

Penulis, Dosen UNHI Denpasar

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA *