Ibu-ibu di Desa Adat Penarungan, Badung melaksanakan mapeed. (BP/Istimewa)

MANGUPURA, BALIPOST.com – Bali terkenal memiliki kekayaan adat dan budaya yang tak ada habisnya. Hampir di setiap tempat dapat dijumpai berbagai seni dan budaya. Salah satu yang menarik adalah mapeed, sebuah upacara di Bali sebagai ungkapan syukur ke Sang Hyang Widhi Wasa.

Mapeed adalah sebuah tradisi dengan peserta para perempuan Bali yang mengusung gebogan. Gebogan adalah rangkaian buah dan aneka jajanan tradisional yang dihiasi dengan janur.

Kegiatan ini menjadi tradisi yang dilestarikan oleh masyarakat di Desa Adat Penarungan, Kecamatan Mengwi.

Baca juga:  Badung Lelang Enam Jabatan Ini

Bendesa Adat Penarungan Made Widiada mengaku tidak mengetahui secara pasti kapan pertama kalinya
tradisi ini dimulai. Bahkan, tradisi mapeed di desanya yang dilaksanakan setiap setahun sekali ini dilaksanakan sejak dahulu. “Semenjak saya menjadi bendesa tradisi ini sudah ada, saya istilahnya hanya melanjutkan saja,” ujarnya.

Dikatakan, tradisi mapeed ditujukan untuk menjaga kekompakan dan rasa bakti secara tulus ikhlas. Agar suasana persembahyangan menjadi nyaman maka
dilaksanakan sesuai dengan pembagian masing-masing desa adat. “Sehingga melaksanakan persembahyangan dilakukan pembagian jadwal. Sebab, di Desa Adat Penarungan yang terdiri dari delapan banjar tidak memungkinkan untuk melaksanakan persembahyangan secara bersamaan,” katanya.

Baca juga:  Desa Adat Kuta Kembali Gelar “Nangluk Merana”

Dijelaskan, masyarakat Penarungan jumlahnya sangat banyak, jadi saat melakukan persembahyangan tidak
mungkin secara bersamaan. Sehingga dilakukan pembagian waktu ke Pura.

Tradisi ini dilaksanakan saat pujawali di pura kahyangan tiga. Piodalan di pura kahyangan tiga ini pun dilaksanakan setiap setahun sekali. Untuk Pura Desa dan Puseh piodalan jatuh setiap Buda Kliwon
Pahang, sementara Pura Dalem Jati yang bersamaan dengan Pura Prajapati jatuh pada Purnama Sasih Kadasa.

Baca juga:  Desa Adat Kediri Kembali Geliatkan Tradisi Tektekan

“Jadi mapeed ini sudah dilakukan dari dulu dan dilakukan menurut pah-pahan (pembagian, red) dari Desa Adat Penarungan ketika ada odalan di masing-masing Pura. Umumnya mapeed ini akan diikuti oleh para ibu-ibu dengan sarana banten gebogan yang akan dihaturkan ke Pura,” ungkapnya. (Parwata/balipost)

BAGIKAN