Desa Sanda mengolah sampah plastik menjadi bahan bakar minyak (BBM) dengan menggunakan teknologi pyrolysis. (BP/Istimewa)

TABANAN, BALIPOST.com – Desa Sanda, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan memiliki cara sendiri untuk mengatasi persoalan sampah sekaligus menambah pendapatan. Mereka mengolah limbah anorganik plastik menjadi aneka bahan bakar minyak (BBM) setara solar, premium dan lainnya.

Pengolahan sampah plastik itu dilakukan melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Prosesnya menggunakan teknologi Pyrolysis.

Perbekel Sanda, I Wayan Susana menjelaskan proses pengolahan sampah plastik menggunakan teknologi Pyrolysis plastik ini termasuk ramah lingkungan dan tidak menimbulkan polusi atau pencemaran. Hanya, untuk penerapan memang belum maksimal karena masih tahap uji coba dimulai 1,5 bulan lalu.

“Ini sebagai langkah awal untuk bisa mengurangi sampah plastik di desa kami. Tentunya sesuai dengan program Pemerintah Provinsi Bali, agar desa melakukan inovasi terkait pengolahan sampah berbasis sumber, meski bank sampah kami belum maksimal dan mesin Pyrolysis baru datang 1,5 bulan,” terangnya, Jumat (8/4).

Baca juga:  BRI bersama PLN Resmikan SPKLU di Jakarta

Lanjut kata Susana, ide awal mengatasi persoalan sampah plastik ini memang sudah muncul sejak dirinya belum dilantik menjadi Perbekel tiga tahun lalu. Menjadi pedamping desa saat itu dengan kepemimpinan perbekel sebelumnya, Susana bersama rekan-rekannya diberikan peluang untuk ikut memberikan gagasan atau pokok pikiran cara penanggulangan sampah.

Lewat mencari di google, ia menemukan sejumlah bank sampah desa di luar Bali berhasil mengatasi sampah dengan teknologi Pyrolysis. Hingga akhirnya, setelah dilantik menjadi Perbekel Sanda, gagasan ini lebih dimatangkan dengan melakukan survei.

“Setelah survei dan menemukan apa yang sekiranya cocok ditiru di desa kami, barulah kami menyiapkan anggaran untuk penyediaan mesin dan operasional. Dan baru bisa terealisasi di 2022 menggunakan Silpa Dana Desa. Sementara ini sudah bisa beroperasi hanya saja belum maksimal,” ucapnya.

Baca juga:  Umanis Galungan, Begini Kondisi Obyek Wisata di Tabanan

Dengan adanya mesin Pyrolysis, meski masih tahap awal setidaknya 40 sampai 50 kilogram sampah plastik sudah diolah untuk menghasilkan BBM setara minyak tanah dan bensin. Rata-rata 30 kilogram sampah plastik dapat menghasilkan sampai 28 liter BBM setara minyak tanah yang masih mentah dan perlu diolah lagi. “Karena masih baru jadi kami belum bisa menentukan tingkat oktan yang dihasilkan. Ini masih terus berproses dan masih pelu belajar karena ini ajang edukasi di desa untuk upragde dengan koordinasi dengan ahlinya nanti,” terangnya.

Ke depan dengan teknologi ini, paling tidak dapat mengurangi atau bisa menghilangkan sampah plastik di Desa Sanda. Kerja sama dilakukan dengan bank sampah untuk satu kilogram sampah plastik yang sudah terpilah akan diganti dengan Rp 1.000. “Termasuk jika nanti BBM setara minyak tanah dan bensin yang dihasilkan nilai Oktan nya bagus dan tidak ada residu tinggi bisa digunakan untuk mesin perabas rumput, chainsaw, bahkan kompor,” pungkasnya.

Baca juga:  Masih Ada Toko Tidak Pasang Sarana Sosialisasi Pengurangan Sampah Plastik

Menanggapi inovasi tersebut, Bupati Tabanan Dr. I Komang Gede Sanjaya memberikan dukungan. Sanjaya menilai desa ini satu-satunya yang dilihat secara langsung memilki sistem pengelolaan sampah pyrolysis dengan sistem sederhana bermodalkan kayu bakar.

Bupati Sanjaya beranggapan, gagasan-gagasan positif ini perlu mendapat dukungan dari pemerintah. Ia  berharap, inovasi pyrolysis ini jika dengan baik dikembangkan, tentu bisa jadi contoh bagi desa-desa lainnya di Tabanan, bahkan kabupaten lain di Bali. (Puspawati/balipost)

BAGIKAN