Sejumlah penumpang pesawat udara tiba dan bertemu dengan keluarganya di terminal kedatangan internasional Bandara John F Kennedy, New York, Amerika Serikat, Senin (8/11/2021). (BP/Antara)

WASHINGTON, BALIPOST.com – Sekitar sepertiga dari seluruh negara bagian Amerika Serikat, telah terpapar varian Omicron. Demikian dikatakan pejabat kesehatan AS, Minggu (5/12).

Namun, virus corona varian Delta tetap menjadi mayoritas penyebab kasus COVID-19 di AS dengan kasus infeksi meningkat secara nasional. Meskipun munculnya varian baru Omicron telah menyebabkan kekhawatiran di seluruh dunia, pejabat tinggi urusan penyakit menular AS, Dr. Anthony Fauci mengatakan kepada CNN bahwa “Sejauh ini tampaknya tidak ada tingkat keparahan yang besar,” katanya dikutip dari Kantor Berita Antara, Senin (6/12).

Dia menambahkan bahwa terlalu dini untuk menarik kesimpulan yang pasti (tentang varian Omicron) dan studi lebih lanjut diperlukan.

Fauci, yang merupakan Kepala Penasihat Medis Presiden AS Joe Biden, mengatakan dia juga berharap Amerika Serikat akan mencabut larangan masuk terhadap pendatang dari negara-negara di wilayah selatan Afrika dalam “periode waktu yang wajar.”

Pemerintah Afrika Selatan mengeluh karena sedang dihukum dan bukannya dipuji setelah menemukan varian baru Omicron dan dengan cepat memberi tahu para pejabat kesehatan internasional.

Baca juga:  Polri Rekrut Personel di DOB Papua

Sementara Fauci dalam sebuah wawancara memuji Afrika Selatan atas transparansinya dan mengatakan larangan perjalanan AS diberlakukan terhadap negara-negara Afrika pada saat “ketika kita semua belum benar-benar mengerti” dan perlu waktu untuk mempelajari varian Omicron.

Setidaknya 16 negara bagian AS telah melaporkan kasus Omicron, yaitu California, Colorado, Connecticut, Hawaii, Louisiana, Maryland, Massachusetts, Minnesota, Missouri, Nebraska, New Jersey, New York, Pennsylvania, Utah, Washington dan Wisconsin.

Banyak kasus varian Omicron terjadi pada orang-orang yang telah divaksin lengkap dengan gejala ringan, meskipun status suntikan vaksin penguat (booster) dari beberapa pasien tidak dilaporkan.

Terlepas dari sejumlah kasus varian Omicron, varian Delta masih menyumbang 99,9 persen dari kasus baru COVID-19 harian di Amerika Serikat, kata Direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS Dr. Rochelle Walensky dalam sebuah wawancara dengan ABC News. “Kami setiap hari mendengar tentang semakin banyak kemungkinan kasus (varian Delta) sehingga jumlahnya kemungkinan akan meningkat,” katanya.

Baca juga:  Dibantah! Temuan Kasus Omicron di Bekasi

Amerika Serikat selama tujuh hari terakhir mencatat rata-rata 119.000 kasus baru COVID dalam sehari dan kehilangan hampir 1.300 jiwa setiap hari akibat COVID. Louisiana saat ini memiliki satu kasus Omicron dari seorang individu yang melakukan perjalanan di Amerika Serikat, kata departemen kesehatan negara bagian itu pada Minggu (5/12).

Pada Sabtu (4/12), otoritas Louisiana mengatakan sebuah kapal pesiar milik Norwegian Cruise Line Holdings Ltd yang akan berlabuh di New Orleans dengan lebih dari 3.000 penumpang menemukan 10 penumpang yang terjangkit COVID-19 di dalamnya.

Para pejabat mengatakan penumpang di kapal Norwegian Breakaway, yang berhenti di Belize, Honduras dan Meksiko, akan dites serta diberikan panduan pascapaparan dan menjalani karantina dari CDC.

Baca juga:  Malang Laporkan Sejumlah Warga Terpapar Omicron

Munculnya varian baru Omicron telah secara tajam membatasi jumlah para eksekutif bidang energi dan menteri pemerintahan yang berencana menghadiri Kongres Perminyakan Dunia (WPC) selama empat hari di Houston pekan ini, yang telah dijadwal ulang dari sebelumnya pada 2020.

Namun, pembatasan perjalanan dan kekhawatiran atas varian Omicron membuat para menteri energi, dari Arab Saudi, Kazakhstan, Qatar, Argentina, Guinea Ekuator, Yunani, Turki dan Rumania batal hadir, kata pejabat WPC.

Kasus varian Omicron muncul di AS, perusahaan-perusahaan pembuat vaksin COVID-19 dengan cepat bermaksud untuk mengubah bidikan mereka untuk menyasar pembuatan vaksin khusus varian baru itu. Selain itu, badan-badan regulator AS telah berjanji akan melakukan peninjauan dengan cepat, tetapi langkah itu masih memakan waktu berbulan-bulan. “Tentu saja, FDA (Badan Pengawas Obat dan Makanan) akan bergerak cepat dan CDC pun akan bergerak cepat,” kata Direktur CDC Walensky. (Kmb/Balipost)

BAGIKAN