Sejumlah siswa SMA meninggalkan sekolah usai PTM. Sekolah menerapkan prokes ketat selama PTM untuk menghindari kluster COVID-19 di sekolah. (BP/Hendri Febriyanto)

DENPASAR, BALIPOST.com – Pandemi COVID-19 mengubah dunia pendidikan nasional. Dari seratus persen tatap muka menjadi seratus persen daring di awal pandemi dan hybrid saat pandemi sudah menunjukkan tren melandai seperti sekarang.

Pembelajaran tatap muka (PTM) juga harus menerapkan protokol kesehatan 3 M yang ketat. Yaitu warga sekolah wajib bermasker, mencuci tangan dengan sabun di air mengalir, dan menjaga jarak serta menghindari kerumunan.

Salah satu siswa sekolah menengah atas (SMA), Jeremy, mengakui bahwa pandemi mengubah pola-pola pembelajaran. Kini, ia pun terbiasa belajar dalam jaringan dan berinteraksi menggunakan perangkat teknologi saat mengerjakan tugas-tugas dari sekolah.

Namun, seiring dimulainya pembelajaran tatap muka (PTM), siswa kelas XI ini pun mulai lagi berinteraksi secara luar jaringan (luring) dengan guru dan teman-temannya. Meski masuk hanya seminggu sekali dan dua jam pertemuan, ia merasa PTM lebih efektif karena bisa mendengar penjelasan guru secara langsung.

Baca juga:  Turun, Peredaran Uang Kartal di Bali

“Sejak PTM, prokes untuk menghindari penyebaran COVID-19 di sekolah diterapkan dengan ketat. Baik itu, menggunakan masker, menjaga jarak di dalam kelas maupun saat berada di luar kelas, dan mencuci tangan sebelum memasuki kelas dan usai pelajaran. Sesudah pelajaran, siswa juga gak boleh berkerumun, melainkan langsung pulang ke rumah,” tambah Jeremy yang sudah memperoleh vaksinasi dosis lengkap ini.

Tak hanya itu, menurut Ketua Umum Persatuan Guru Republik Indonesia, Unifah Rosyidi, dalam keterangan pers diterima Jumat (26/11), pandemi COVID-19 tidak hanya mendorong kemandirian murid dalam belajar, melainkan juga menggairahkan guru untuk menemukan cara-cara baru dalam mengajar. “Yang paling dibutuhkan guru abad ini adalah yang relate (sesuai, berhubungan) dengan kebutuhan anak,” tegas Unifah.

Baca juga:  Kabar Duka Belum Mereda, Pasien COVID-19 Meninggal di Bali Masih Bertambah

Dengan demikian, transformasi kurikulum juga diperlukan agar dapat bersifat dinamis dan sesuai kebutuhan yang ada. Menurutnya, saat ini, selain kompetensi ilmu pengetahuan, keterampilan dan karakter juga harus diperhatikan.

Ia menyebutkan, guru dapat merumuskan pembelajaran bersama siswa sesuai kompetensi dan kebutuhan, serta mendorong pembelajaran yang bersifat personalize learning. Unifah meyakini saat ini, sumber belajar bisa didapatkan di mana saja, sedangkan di kelas, murid dan guru dapat menyelenggarakan hal-hal seperti komunikasi, kolaborasi, atau memecahkan masalah. Ia optimis para guru Indonesia dapat memulihkan pendidikan.

Baca juga:  BOR dan Positivity Rate Bali Turun, Sayang Masih Lebih Tinggi dari Nasional

Sementara, menurut guru sekaligus Influencer, Mardimpu Sihombing, guru adalah agen perubahan, penggerak, pembelajar. Guru diharapkan memberikan ide untuk perubahan dalam pendidikan. “Guru harus menghamba pada anak didik. Harus diciptakan sistem pendidikan yang terfokus pada peserta didik dan dapat mengidentifikasi minat bakat peserta didik,” tutur guru yang dikenal karena konten pembelajaran melalui media Tiktok ini.

Ia menekankan pentingnya pendampingan karena setiap anak berbeda, sehingga belajar seharusnya dalam konsep merdeka atau dibebaskan. Dalam hal ini, guru, orang tua, dan peserta didik harus berkolaborasi dan menjalin komunikasi agar dapat dilakukan pendekatan sesuai kebutuhan tiap murid. (Diah Dewi/balipost)

BAGIKAN