Petugas kesehatan menunjukkan vaksin COVID-19 buatan AstraZeneca dalam pelayanan vaksinasi di Mandiri University, Batam, Kepulauan Riau, Jumat (26/3/2021). (BP/Ant)

JAKARTA, BALIPOST.com – Hasil pengujian vaksin COVID-19 intranasal AstraZeneca, efek sampingnya lebih ringan ketimbang vaksin yang disuntikkan. Hal ini dikatakan Peneliti vaksin dari Jenner Institute Universitas Oxford Carina Citra Dewi Joe.

“Proyek lain tim kami adalah vaksin intranasal. Selain disuntikkan, kami juga uji klinik lewat jalur lain, disemprotkan ke hidung,” kata Carina, ilmuwan asal Indonesia yang ikut mengembangkan formula vaksin AstraZeneca, dikutip dari Kantor Berita Antara, Selasa (16/11).

Baca juga:  Tujuh Pekan Kasus Terus Melonjak, Persediaan Bed Isolasi Nasional Tinggal Sepertiga

“Sampai sekarang vaksin intranasal baru mendekati uji klinis pertama. Badan Kesehatan Dunia (WHO) memberikan (izin) uji klinis kedua. Hasilnya bagus, efek samping lebih ringan dari yang disuntik,” katanya.

Carina mengatakan bahwa masa uji klinik kedua dan ketiga penggunaan vaksin intranasal diharapkan bisa lebih singkat mengingat sudah banyak data mengenai penggunaan vaksin AstraZeneca dari penelitian laboratorium maupun pemanfaatan vaksin di berbagai negara. “Kita ikut aturan Badan Kesehatan. Kita ikut uji klinis kedua. Saat ini mereka masih susun laporannya,” katanya.

Baca juga:  AHM Hadirkan Beragam Motor Premium Honda di GIIAS 2018

Menurut dia, AstraZeneca terus memperbaiki proses produksi vaksin supaya bisa memproduksi dalam jumlah yang jauh lebih banyak. Produksi vaksin AstraZeneca saat ini telah mendekati dua miliar dosis dan 90 persen negara berkembang di dunia telah menggunakannya. “Saat ini hampir dua miliar dosis produksi vaksin AstraZeneca. Sebentar lagi mereka akan lakukan selebrasi karena memasok kebutuhan vaksin dunia,” katanya.

Baca juga:  Puluhan Tempat Ibadah di Buleleng Dinyatakan Aman dari COVID-19

Menurut Carina, saat ini produksi vaksin AstraZeneca didukung oleh fasilitas produksi di 15 negara dan 25 laboratorium berkat transfer ilmu pengetahuan dan teknologi yang dilakukan oleh dari tim Universitas Oxford. (kmb/balipost)

BAGIKAN