Petenis Bali yang berlaga di PON Papua. (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Cabor tenis lapangan merupakan salah satu dari lima cabor, yang pulang tanpa medali. Maklum, pada PON XX Papua 2021, tenis lapangan tak membatasi usia atletnya, sedangkan di PON Jabar 2016, umur atlet dibatasi 24 tahun.

Tim tenis Bali hanya meloloskan putra bermaterikan Kadek Agus Satria Winaya, Gede Falyawan Eka Putra, Nyoman Suma Indrawan, dan Putu Agus Primadana. Agus Satria tercatat tiga kali memperkiat Bali di PON Riau 2012, Jabar 2016, dan Papua 2021. “Bali sama sekali belum pernah menyumbang medali di PON,” ungkap Agus Satria yang akrab disapa Bombom ini.

Baca juga:  KONI Siapkan Skenario PON Papua

Menurut dia, di PON Papua , beregu putra menghuni Gr D bersama Kaltim fan Babel. Awalnya, Bali dikalahkan Kaltim 0-3, kemudian Bali unggul atas Babel 2-1, dan Babel mengalahkan Kaltim 2-1. Selanjutnya, di tunggal putra langkahnya terhenti di babak 16 besar. Bombom mengakui, tenis lapangan tidak dibatasi usia, termasuk petenis nasional, juara SEA Games maupun Asian Games juga bisa tampil. “Jadi, bagi kami sangat susah untuk merebut medali,” keluhnya.

Baca juga:  Konstruktif, Munculnya Sanggar untuk Penguatan dan Pemajuan Budaya

Apalagi, tambah Bombom, petenis Bali jarang mengikiti turnamen nasional maupun internasional, sehingga kalah jam terbang dan pengalaman bertanding, dibandingkan atlet provinsi lain. “Bali hanya mengirimkan tim putra ke Pra PON,” sebut dia.

Akibatnya, Putu Nonik Armini membela Jabar, dan Komang Gita Purnami mengusung bendera Papua Barat, termasuk atlet putra Kadek Ari Sanjaya mengibarkana bendera NTB. “Kami di Bali berlatih sambil bekerja, sedangkan atlet provinsi lain, fokus berlatih dan mengikuti turnamen, tanpa harus bekerja,” beber Bombom. (Daniel Fajry/balipost)

Baca juga:  Taekwondo Bali Patok Sekeping Emas di PON Papua
BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA *