Ngurah Weda Sahadewa. (BP/Istimewa)

Oleh Ngurah Weda Sahadewa

Keluarnya kebijakan PTM bukan berarti sebagai bentuk yang mengikat karena segala sesuatu mesti ada evaluasi yang berlanjut. Inilah sebagai bentuk
nyata dari kepedulian atas segala sesuatu itu.

Segala sesuatu yang terkait langsung ataupun tidak
langsung dengan pandemi Covid-19 ini. Kenyataan
adanya Covid-19 ini telah menjadikan kehidupan juga
mengalami suatu perubahan drastis sekalipun kemudian berangsur-angsur manusia berupaya keras untuk melakukan suatu adaptasi tertentu sekalipun tanpa disengaja.

Akan tetapi, adaptasi ini bukan dimengerti sebagai pembiaran melainkan juga dimengerti sebagai bentuk yang perlu untuk dimaknai dengan berbagai kemungkinan terobosan yang menjadikan masyarakat
terselematkan dari kondisi yang terpuruk. Kekuatan PTM mesti perlu dijadikan sebagai bahan evaluasi kritis dengan jalan pertama, yaitu mendengarkan keluhan para siswa dan ataupun kelak mahasiswa jika
tingkat perguruan tinggi juga dikenakan
PTM.

Baca juga:  Cegah Penularan Covid-19, Tak Masalah PTM Ditunda

Untuk itulah maka kesempatan PTM ini sebagai batu ujian penting bagi pening￾katan kualitas pendidikan yang menjadikan kesadaran sebagai salah satu pembelajaran penting. Kemampuan para peserta didik sebagai salah satu dari kemampuan yang ditunjukkan oleh lembaga pendidikan dalam mengelola kepemimpinan.

Di sinilah sebagai bentuk batu ujian lain dari kepemimpinan lembaga pendidikan yang bertugas mendidik kemunculan leadership di kalangan peserta didik untuk dapat menjadikannya semakin mandiri dalam menunjukkan sikap dan kepemimpinan untuk menjadikan lembaga pendidikan sebagai garda depan
pencegahan penyebaran COVID-19 dan sekaligus penanggulangannya.

Ini berarti ujian sangat tinggi dari sisi kualitas terhadap lembaga pendidikan itu sendiri. Karena menjadikan langsung batu ujian dalam kalangan peserta didik dan juga tentunya segala sesuatu yang terkait didalamnya termasuk pendidik dan tenaga
kependidikannya.

Baca juga:  Denpasar Gelar PTM Mulai 1 Oktober

Ini sebagai pertanda penting bagi lembaga pendidikan untuk menunjukkan suatu kualitas leadership yang baik dalam penanganan penyebaran Covid-19 justru di internal lembaganya yang bisa sebagai cerminan
penting dalam kehidupan di luar lembaga pendidikan itu sendiri.

Kembalinya para peserta didik ke bangku sekolah ataupun perkuliahan akan menjadi suatu bentuk kesadaran baru yang muncul dengan sendirinya asalkan terus diberikan suatu bentuk penyadaran
bahwa ternyata hidup itu tidak selalu dapat diduga ataupun dipastikan. Ini sebagai pertanda juga bahwa masa depan itu pun tidak selalu dapat dipastikan sehingga menjadikan sebuah pelajaran penting sehubungan dengan kasus pandemi COVID-19 ini untuk menentukan arah dari masa depan itu sebagai sebuah perjuangan tersendiri.

Jika manusia sudah dapat berandai-andai tentang masa depannya itu maka sebuah gambaran yang sulit untuk dijadikan rujukan ketika masa depan itu tidak selalu semulus yang diandaikan. Inilah sebagai
perubahan yang tidak diduga ataupun sebuah bentuk perubahan yang tak dapat diperkirakan sebelumnya sehingga perlu menjadi sebuah bahan pemikiran baru tentang masa depan bagi para peserta didik itu.

Baca juga:  Digitalisasi Penyiaran dan Nasib Televisi Analog

Oleh karenanya perlu menjadi sebuah pertimbangan baru bahwa ketika masa depan sudah dipikirkan maka perlu pula dijadikan pelajaran baru bahwa pula masa depan itu pun dapat menjadi tak terpikirkan. Artinya
perlu sebuah pelajaran baru yang menunjuk kepada bagaimana sikap dan mental seorang peserta didik dalam menjadikan suatu persoalan atas masa depan bukan semata-mata sebagai sesuatu yang perlu
dijadikan sebagai bentuk yang absolut. Ini berarti memikirkan masa depan menjadi sebuah pemikiran baru sehubungan adanya pandemi COVID-19 tersebut.

Penulis, Dosen Fakultas Filsafat UGM

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA *