Polisi melakukan olah TKP perampokan di Sidembunut. (BP/Istimewa)

BANGLI, BALIPOST.com – Kasus perampokan yang terjadi di Banjar Sidembunut, Kelurahan Cempaga, Bangli, Kamis (7/10) ternyata hanya rekayasa. Itu diketahui setelah polisi melakukan serangkaian penyelidikan dan pemeriksaan terhadap korban, Kadek Ardiasih (24).

Kapolres Bangli AKBP I Gusti Agung Dhana Aryawan, Minggu (10/10) mengungkapkan berdasarkan hasil penyelidikan di lapangan pada Jumat (8/10) tim Opsnal Polres Bangli menemukan beberapa kejanggalan. Baik di tempat kejadian perkara (TKP) maupun dari keterangan korban.

Hasil visum Kadek Ardiasih menunjukan tidak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan. Alat-alat yang digunakan pelaku berupa sabit, kayu juga tidak ada penyesuaian di TKP.

Baca juga:  Gunakan Sabu, Petani Ditangkap

Sehingga Tim Opsnal Polres Bangli mencurigai bahwa korban telah merekayasa peristiwa pencurian yang dialaminya. “Dan setelah dilakukan interogasi, Kadek Ardiasih mengakui bahwa pencurian uang dan perhiasan emas milik mertuanya tersebut dilakukan oleh dirinya sendiri. Namun yang bersangkutan merekayasa peristiwa tersebut seolah-olah dirinya adalah korban,” ungkap Agung Dhana.

Ardiasih nekat merekayasa kasus perampokan itu karena bingung mengganti uang tabungan milik mertuanya yang disimpan di KSP Sari Merta. “Dari keterangan Ardiasih bahwa uang yang diambil sebesar Rp 26.360.000 tersebut, digunakan untuk mengganti uang tabungan yang sudah dihabiskan sebelumnya. Sehingga dia bingung untuk mengganti uang tabungan milik mertuanya,” jelas Agung Dhana.

Baca juga:  Sasar Turis Australia, Komplotan Jambret Ditangkap

Berdasarkan fakta, keterangan saksi-saksi, dan pengakuannya tersebut, Ardiasih dinyatakan bersalah telah melakukan tindak pidana pencurian yang diaturbdalam Pasal 362 KUHP atau 367 KUHP atau 220 KUHP. Dengan ancaman pidana selama-lamanya 5 (lima) tahun penjara.

Sebelumnya dalam laporannya, Ardiasih mengaku menjadi korban perampokan pada Kamis siang di rumahnya. Ardiasih mengaku kedatangan seorang pria saat sedang mengambil makanan di dapur.

Ciri-ciri pria yang mendatanginya berbadan kurus, rambut keriting pendek, berkumis, manggunakan baju kaos polo warna hitam, celana jeans hitam membawa botol air mineral (aqua) dengan alasan meminta air karena mobilnya mogok.

Baca juga:  Putus Rantai Covid-19, Desa Adat Tista Sahkan "Awig-Awig"

Pria yang mendatanginya itu diceritakan sempat bertanya tentang siapa saja yang berada dirumah. Kemudian dijawab sendirian karena suami dan mertua sedang bekerja.

Pada saat itu Ardiasih pun sempat bertanya kepada pelaku dari mana dan dijawab dari Desa Kayubuhi. Setelah itu, pria tersebut mengambil sabit yang ada di TKP kemudian mengancamnya agar memberitahukan dimana letak barang berharganya. Karena ketakutan ia pun lantas memberitahunya.

Kemudian Ardiasih dijambak dan diikat tangan, kaki dan dibekap menggunakan selendang. Setelah pelaku kabur kemudian Ardiasih menelepon saksi Ni Luh Partini untuk meminta pertolongan. (Dayu Swasrina/balipost)

BAGIKAN