Petani sedang menggarap sawah yang makin terhimpit oleh permukiman. (BP/eka)

DENPASAR, BALIPOST.com – Sebagai kawasan perkotaan, Denpasar, memiliki hambatan yang cukup besar dalam mempertahankan sektor pertanian. Berbagai upaya telah dilakukan dalam usaha untuk menjaga eksistensi pertanian di kota ini.

Namun, gerusan alih fungsi lahan juga tak bisa terbendung, sehingga luasan lahan pertanian setiap tahun terjadi penyusutan. Wali Kota Denpasar IGN Jaya Negara saat pelantikan Forum Pekaseh belum lama ini mengungkapkan, keberadaan subak di Kota Denpasar makin terhimpit kawasan permukiman.

Di samping itu minat generasi muda untuk menekuni pertanian dewasa ini semakin menurun. Dibentuknya Forum Pekaseh ini sebagai media komunikasi antar petani di Kota Denpasar dalam mempertahkan eksistensi subak dan menggairahkan minat generasi muda untuk menekuni usaha di bidang pertanian.

Baca juga:  Beralih ke Pertanian, Masih 72 Persen Tanah Bali Dapat Digarap

“Saya berharap dengan dikukuhkannya Forum Pekaseh ini kedepannya dapat tetap menjaga dan melestarikan keberadaan subak sebagai warisan budaya dengan konsep Tri Hita Karana yaitu Prahyangan, Pawongan dan Palemahan yang merupakan salah satu bagian dari eksistensi subak,” ujar Jaya Negara.

Sementara Ketua Forum Pekaseh Kota Denpasar, I Wayan Jelantik berharap generasi muda juga dapat mengambil andil dalam bidang pertanian. Apalagi dalam masa pandemi COVID-19, usaha pertanian cukup menjanjikan dan bisa bertahan dalam masa pandemi. “Sesuai arahan Bapak Presiden bahwa generasi muda harus mulai menggeluti profesi dan usaha di bidang pertanian. Jangan malu jadi petani, petani adalah profesi yang mulia,” katanya.

Plt. Kadis Pertanian Kota Denpasar, AAG Bayu Brahmasta mengungkapkan dilihat dari data yang ada, jumlah alih fungsi lahan pertanian pada 2020 lebih rendah dari 2018 dan 2019. “Pada 2018 lalu terjadi penyusutan lahan pertanian seluas 230 hektar dari 2.400 hektar,” katanya.

Baca juga:  Ini, Kesaksian Warga Sekitar PLTU Celukan Bawang soal Dampak Polusi Batu Bara

Dikatakan, pihaknya telah melakukan berbagai upaya untuk membendung terjadinya alih fungsi lahan ini. Misalkan saja dengan memberikan sarana prasarana yang diperlukan petani, seperti bantuan traktor ataupun subsidi pupuk lewat Kartu Tani dan juga bantuan benih.

Demikian pula dengan membangun jalan usaha tani di beberapa subak untuk mampu meningkatkan produktivitas petani serta mempermudah dalam pengangkutan hasil produksi. Meski demikian, setiap tahun alih fungsi lahan masih terus terjadi. Banyak lahan pertanian produktif dialihfungsikan menjadi perumahan.

Kini, lahan pertanian di Kota Denpasar masih tersisa 1.958 hektare. Setahun sebelumnya luas lahan di Denpasar yakni 2.170 hektare. Ini artinya adanya penyusutan sebanyak 212 hektar.

Baca juga:  Terbengkalai, Rumah Pembibitan Dipindah ke TOSS Center

Dengan lahan seluas itu, Denpasar masih memiliki petani 3.122 orang. Terdiri dari 1.177 orang merupakan pemilik dan 1.945 merupakan penggarap.

Dalam upaya meringankan beban petani, pihaknya juga memberikan bantuan benih padi sebanyak 17,1 ton.  Sedangkan untuk bantuan pupuk sebanyak 33.6 ton pupuk NPK.

Sementara kebutuhan pupuk untuk penanaman padi yakni pupuk urea sebanyak 137,2 ton, pupuk ZA sebanyak 78.4 ton, dan pupuk NPK sebanyak 176,4 ton. Di sisi lain untuk pupuk komoditas kedelai yang berada di lahan 148 hektar, diperlukan sebanyak 25.9 ton pupuk NPK. (Asmara Putera/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA *