Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana meninjau usaha pengolahan kopi di Desa Wanagiri, Kecamatan Sukasada belum lama ini. (BP/Dokumen)

SINGARAJA, BALIPOST.com – Sejak awal Juli hingga Agustus ini petani kopi di Buleleng mulai melakukan panen raya. Untuk kopi kering saat ini harganya melorot karena masa pandemi COVID-19, pihak buyer asing menunda order.

Kepala Dinas Pertanian (Distan) Buleleng Made Sumiarta, Senin (2/8), mengatakan, secara umum petani dari beberapa desa merupakan penghasil kopi Robusta dan Arabika. “Dari pantauan kami sementara, sudah sebagian besar yang panen. Petani juga sudah kebanyakan melakukan petik merah, sehingga kualitas kopi kita bisa bersaing di pasaran,” katanya.

Baca juga:  Korupsi untuk Beli Mobil dan Kontrak Cengkeh

Menurut mantan Kepala Bagian (Kabag) Umum Setda Buleleng ini, harga kopi kategori basah secara umum masih stabil. Ini seperti Kopi Robusta yang sebagian besar dikembangkan di Kecamatan Busungbiu bervariasi mulai dari Rp 4.500 dan harga tertinggi Rp 5.000 tiap kilogram.

Sedangkan, untuk Kopi Arabika yang banyak dibudidayakan di Kecamatan Sukasada, harganya lebih mahal. Rata-rata per kilogram antara Rp 7.000 hingga Rp 8.000. “Kalau ditingkat petani untuk kopi basah harganya terpantau stabil,” jelasnya.

Baca juga:  Kopi dan Soto Siap Bersaing di Pasar Global

Namun, harga kopi kering mengalami penurunan. Kopi Robusta sebelumnya terjual dengan harga Rp 21.500 per kilogram, sekarang harganya turun tipis Rp 1.500. Tiap kilogram, harganya menjadi Rp 20.000. Sedangkan untuk Kopi Arabika kering Rp 80.000 per kilogram.

Terkait penurunan harga ini, Sumiarta menyebut, imbas pandemi. Para buyer asing kebanyakan menunda pembelian kopi kering. “Karena pandemi ini, pesanan kopi kering masih banyak yang ditunda, sehingga harga menurun. Mudah-mudahan pandemi segara berlalu, harga kopi kembali stabil dan memberi keuntungan untuk petani kita,” jelasnya. (Mudiarta/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

Captcha *