Agus Murjani. (BP/mud)

SINGARAJA, BALIPOST.com – Umat Muslim Kampung Jawa, Singaraja sejak dahulu mewarisi tradisi yang rutin digelar saat Idul Fitri setiap tahun. Tradisi ini dikenal dengan nama Banca’an atau makan bersama.

Tradisi ini dijalankan setelah umat menunaikan Shalat Idul Fitri. Karena masih darurat kesehatan karena Virus Corona (COVID-19), tradisi itu tidak digelar pada perayaan Idul Fitri 1442 Hijriah tahun 2021, Kamis (13/5).

Sekretaris Takmir Masjid Nur Rahman Kampung Jawa, Dajan Puri Kanginan Buleleng, Agus Murjani mengatakan, sejak pandemi melanda dunia tercatat dua kali umat tidak melaksanakan tradisi Banca’an. Keputusan tidak melaksanakan Banca’an melalui rapat pengurus takmis masjid dan telah disetujui para Umat Muslim Kampung Jawa, Singaraja.

Baca juga:  Mantan TKW Konsumi Narkoba

Sebagai pewaris tradisi, Agus mengaku terpaksa tidak melaksanakan tradisi ini. Tradisi Banca’an sendiri dijalankan karena syarat dengan makna dalam menjaga tali silaturahmi antar Umat Muslim dan umat lain.

Bahkan, tradisi ini merupakan bentuk akulturasi antara budaya Bali yang mengenal istilah Megibung. Dalam, setiap warga menyuguhkan beragam makanan khas lebaran, seperti opor ayam, ketupat, nasi kuning dan makanan enak lain.

Dari sekian banyak makanan yang terkumpul itu, kemudian dinikmati oleh para umat dan warga lain. “Sudah dua kali Lebaran kami tidak melaksanakan Banca’an. Sepertinya kurang lengkap karena sebulan berpuasa, hari ini umat merayakan kemenangan. Salah satu tradisi yang ditunggu-tunggu adalah ini (Banca’an), di mana tradisi ini perpaduan kami di Muslim dan adat Bali. Kami mewarisi kalau tradisi ini syarat makna memupuk silaturahim dengan semua umat,” katanya.

Baca juga:  Tak Ada Aktivitas Mudik! Libur Panjang Idul Fitri 2021 Ditiadakan

Bukan saja saat Idul Fitri, Banca’an menjadi rangkaian dalam perayaan hari besar Islam lain. Ini seperti pada hari Idul Adha dan Maulid Nabi SAW.

Untuk itu, dirinya berharap pada hari besar yang lain itu, penyebaran COVID-19 menjadi landai, sehingga ada momentum untuk melaksanaakan tradisi yang diwariskan para pendahulu mereka. “Harapannya nanti kalau penyebaran virus ini sudah landai, saat Idul Adha, dan Maulid Nabi SAW, kami bisa menjalankan tradisi dalam rangka pelestarian agar tidak punah,” tegasnya.

Baca juga:  Mengajegkan Bali di Era Milineal

Meskipun tidak menggelar Banca’an di areal masjid, masing-masing umat tetap melaksanakan tradisi ini bersama keluarga masing-masing dengan jumlah peserta yang terbatas. Dengan cara ini, setidaknya umat Muslim tetap bisa menunaikan ibadahnya dengan mengikuti kebijakan pemerintah dalam mencegah penularan COVID-19.

Sementara itu, jalannya Shalat Ied, Agus mengatakan, pelaksanaan ibadah shalat berjalan lancar, tertib dan menerapkan protokol kesehatan (prokes). “Kami berterima kasih kepada pemerintah telah memberi kesempatan untuk beribadah. Tadi pelaksanaan sholat dengan menerapkan prokes guna mencegah penularan COVID-19,” tegasnya. (Mudiarta/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

Captcha *