Seorang petani sedang memanen anggur hitam yang menjadi salah satu komoditi unggulan Buleleng. (BP/Istimewa)

SINGARAJA, BALIPOST.com – Pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung setahun lebih telah melumpuhkan semua lini kehidupan umat manusia. Sektor pariwisata Bali sontak mati suri, yang mengakibatkan perekonomian masyarakat Bali termasuk Buleleng terpuruk. Menyikapi hal itu, Bupati Buleleng, Putu Agus Suradnyana, berupaya membangkitkan perekonomian masyarakat Buleleng dengan mendorong pengembangan pertanian dan perkebunan.

“Sektor pertanian dan perkebunan inilah yang kami dorong karena Buleleng memiliki potensi besar di sektor ini,” kata Bupati Buleleng, Putu Agus Suradnyana, Jumat (23/4).

Agus Suradnyana mencontohkan, pertanian anggur hitam yang satu-satunya hanya ada di Buleleng sangat potensial untuk dikembangkan. Pihaknya akan mendorong petani agar menggeluti budi daya penanaman anggur hitam lebih optimal. Kebijakan yang akan diambil adalah meningkatkan produktivitas tanaman dan mengembangkan insdustri pengolahan menjadi wine/anggur.

Dengan menggalakkan usaha pengolahan anggur hitam menjadi wine, maka produksi anggur hitam di Bali Utara tidak hanya dijual ke pedagang pengecer di pasar tradisional atau dijual ke Pulau Jawa, Surabaya, dan Jakarta saja, namun diolah menjadi wine. “Strategi bidang pertanian dan perkebunan ini bukan sekadar memperbaiki hasil pertanian di daerah kita, namun produksi tanaman anggur hitam kita dorong kemudian kami fasilitasi dengan pengolahan menjadi wine. Ini tidak semata bisa dilakukan skala UKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah) saja, tetapi bisa dilakukan dengan skala yang lebih besar,” katanya.

Baca juga:  Pertanian Ngetren di Tengah Pandemi COVID-19

Kepala Dinas Pertanian (Distan) Buleleng, Made Sumiarta, mengatakan, sesuai data tahun 2020, luas perkebunan anggur hitam di Buleleng tercatat seluas 1.800 hektar. Areal itu menyebar dari Kecamatan Banjar, Seririt, dan sebagian di Kecamatan Gerokgak. Dari sentra budi daya anggur hitam itu, produksi anggur hitam yang dihasilkan sebanyak 10.121 ton.

Dari total produksi itu, kata dia, sebagian besar dijual ke pasar tradisional atau supermarket, dan sebagian lagi dijual ke beberapa daerah di Pulau Jawa, dan Jakarta. Sebagian kecil saja anggur hitam Buleleng diolah menjadi wine.

Baca juga:  Antisipasi Teroris, Polres dan TNI Gelar Razia di Buleleng

Selain itu, wine menggunakan anggur hijau yang merupakan varietas baru yang mulai banyak dibudidayakan oleh petani. Dikatakan, pengolahan wine masih minim karena usaha pengolahan wine yang merupakan minuman beralkohol (mikol) memerlukan perizinan yang sangat ketat. “Sebagian besar masih dijual langsung. Hanya sebagian kecil diolah jadi wine, ini tidak bisa dipungkiri karena memproduksi wine itu menyangkut izin kadar alkoholnya,” katanya.

Sejalan dengan strategi pemerintah daerah mengembangkan pertanian anggur, Sumiarta mengatakan pihaknya akan mendampingi kelompok petani untuk mampu mengolah anggur hitam menjadi olahan, tidak saja wine, namun sari buah anggur, dan brem. Pengolahan minuman berskala home industry ini dilakukan oleh kelompok wanita tani di Desa Dencarik, Kecamatan Banjar.

Kualitas produknya tidak kalah, tetapi para penggiat UMKM ini membutuhkan pendampingan dalam mendapatkan perizinan, sehingga bisa memproduksi minuman beralkohol. “Sejalan dengan strategi pemerintah dalam memulihkan perekonomian, kita dorong lagi KWT untuk mengolah anggur atau hasil pertanian lain menjadi produk yang memiliki nilai jual, sehingga perekonomian bisa bangkit walau pandemi belum juga jelas kapan berakhir,” tegasnya.

Baca juga:  Jangan Tinggalkan Sektor Pertanian

Terkait penanganan Covid-19, Bupati Agus Suradnyana menegaskan, Pemkab Buleleng telah melaksanakan strategi agar mata rantai penularan Covid-19 bisa diputus. Selain mengerahkan petugas medis dan para medis, upaya pencegahan juga telah dilakukan. Seperti edukasi kepada masyarakat untuk disiplin menerapkan protokol kesehatan, penyemprotan disinfektan di semua akses publik, dan mendukung program pemerintah pusat melalui program vaksinasi massal.

Menurut Agus Suradnyana, sejak pandemi Covid-19 melanda, strategi yang dilakukan antara penanganan pasien, pencegahan, dan penanganan dampak sosial dan perekonomian dilakukan secara bersamaan. Mengatasi dampak tersebut, penanganan dilakukan dengan merealisasikan bantuan jaring pengaman sosial (JPS).

Selain itu, untuk membangkitkan dunia pariwisata dan mencegah gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) para pekerja, melalui kebijakan pemerintah pusat telah direalisasikan bantuan dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) bidang Pariwisata. Selain itu, strategi untuk mengembangkan pariwisata berbasis alam dan lingkungan juga digalakkan. (Mudiarta/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA *