Made Rentin. (BP/win)

DENPASAR, BALIPOST.com – Bali “dikepung” bencana. Potensi bencana yang dimiliki Bali sangat lengkap, dari hidrometeorologi hingga potensi gempa megathrust yang menimbulkan tsunami.

Untuk itu, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali, I Made Rentin, mengatakan mitigasi kebencanaan sangat perlu dilakukan meminimalisir hal yang tidak diinginkan. Ia mengutarakan pihaknya telah berkoordinasi dengan BPBD daerah untuk memberikan edukasi, sosialisasi, dan solusi ke masyarakat yang bermukim di wilayah berpotensi tinggi terdampak bencana alam.

Disebutkannya, 4 daerah di Bali, yaitu Karangasem, Bangli, Buleleng, dan Tabanan bagian utara dipetakan sebagai wilayah yang berisiko tinggi mengalami bencana hidrometeorologi. Seperti tanah longsor, banjir bandang, dan pohon tumbang.

Baca juga:  ForBALI Kembali Turun ke Jalan, Desak Jokowi Lakukan Ini

Tidak hanya di 4 wilayah tersebut, Rentin, mengatakan potensi bencana hidrometeorologi juga ada di sejumlah wilayah lainnya di Bali. Seperti, halnya di Denpasar yang sering terjadi genangan air di jalan utama pada saat hujan berdurasi panjang dengan intensitas tinggi.

Selain berpotensi mengalami bencana hidrometeorologi, Bali juga diprediksi berisiko tinggi mengalami gempa bumi (megathrust) yang berpotensi tsunami. Sebab, dari sisi geografis Bali memiliki 2 gunung berapi yang aktif, yaitu Gunung Agung dan Gunung Batur.

Baca juga:  Akses, Tata Kelola, dan Mutu Pendidikan Jadi Fokus Utama

Selain itu, Bali juga berhadapan dengan zona megathrust segmen Sumba yang memiliki potensi gempa dan tsunami dengan magnitudo bisa mencapai 8,5 SR. Bali juga berada di 2 patahan, yaitu patahan belakang (kerawanan dari utara) dan subduksi lempeng (kerawanan dari selatan) yang bersumber dari Selatan Lempeng Indonesia-Australia menyusup ke bawah Lempeng Asia secara relatif. Sehingga, zona pertumbuhan terjadi di Samudera Hindia Selatan Bali yang menimbulkan kerawanan bencana bagi wilayah Bali.

Baca juga:  Bangunan Serobot RMJ, Peringatan Pembongkaran Tak Digubris

Sehingga, simulasi bencana penting dilakukan. Bahkan, Bali telah menetapkan tanggal 26 sebagai hari simulasi kesiapsiagaan bencana.

“Simulasi ini wajib dilakukan setiap bulan di kantor-kantor pemerintah daerah maupun pusat yang ada di Bali. Meskipun gaungnya belum begitu masif, namun ke depan akan menyasar ke tingkat desa adat,” ungkapnya, Rabu (7/4).

Bahkan, beberapa desa adat akan dijadikan percontohan terkait simulasi kesiapsiagaan bencana. Tidak hanya itu, sirine peringatan tsunami juga telah dipasang di pantai-pantai yang berpotensi terjadi tsunami. (Winatha/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

Captcha *