Kepala BPPT RI Dr Hammam Riza. (BP/Ant)

JAKARTA, BALIPOST.com – Dalam mereduksi risiko bencana geologi seperti gempa, tsunami dan tanah longsor, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) melakukan pengembangan lima teknologi.

Kepala BPPT Hammam Riza mengatakan, di dalam konteks bencana geologi, di samping bencana hidrometeorologi, BPPT telah berusaha mengupayakan teknologi terkait gempa dan tsunami, tanah longsor, dan tanah ambles. “Ini sebagai bagian dari upaya kita melaksanakan Peraturan Presiden nomor 93 tahun 2019,” ujarnya, dikutip dari kantor berita Antara, Kamis (4/3).

Baca juga:  KRI Nanggala-402 Disebut Kelebihan Muatan, Ini Kata TNI AL

Hammam menjelaskan, teknologi pengembangan lembaganya yakni INATEWS (Indonesia Tsunami Early Warning System), termasuk di dalamnya PEKA Tsunami atau prediksi kebencanaan berbasis kecerdasan artifisial tsunami. Tak hanya menguatkan pengembangan dari sisi perangkat kerasnya, namun juga manajemen kebencanaan berbasis artifisial.

Kemudian teknologi lainnya adalah LEWS (Landslide Early Warning System) atau sistem peringatan dini tanah longsor dengan mengembangkan sistem yang mendukung penyebaran informasi.

Dalam menghadapi tanah longsor, BPPT juga mengembangkan Biotekstile atau pengikat partikel tanah yang terbuat dari serabut kelapa. Solusi tersebut diyakini Hammam dapat mengatasi erosi dan tanah longsor, dan tengah bekerja sama dengan industri untuk hilirisasi mencegah bencana tersebut.

Baca juga:  Sasar Tabanan Barat, Satgas Jaring Belasan Pelanggar Prokes

Selanjutnya, RTG atau rumah tahan gempa dengan mengembangkan teknologi material komposit polimer, sebagai solusi pembangunan, salah satunya di wilayah Lombok Utara. Untuk monitoring kondisi kebencanaan dan alam terkini, serta sebagai referensi data dan informasi, BPPT meluncurkan INDI (Indonesia Network for Disaster Information) pada akhir tahun 2020.

INDI telah berjalan untuk asesmen kebencanaan seperti di Sulawesi Barat, melaksanakan kajian terkait penurunan tanah di beberapa kawasan seperti Jakarta, Semarang dan Bandung.

Baca juga:  Kue Bolen dari Ikan Laut

“Ini meningkatkan kecepatan kita untuk melaksanakan penanggulangan bencana dengan sistem peringatan dini yang lebih baik, lebih cepat, dan lebih akurat, bersama seluruh pemangku kepentingan BPPT, melaksanakan kontijensi planning untuk penanggulangan bencana,” kata Hammam. (kmb/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA *