Prof. Wiku Adisasmito. (BP/kmb)

DENPASAR, BALIPOST.com – Kenaikan kasus COVID-19 di Bali selama seminggu terakhir ini ternyata cukup signifikan. Bahkan Bali masuk dalam lima besar kenaikan tertinggi tambahan kasus mingguan nasional. Hal ini terungkap saat Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Prof. Wiku Adisasmito memberikan laporan evaluasi mingguan secara virtual yang disiarkan kanal YouTube BNPB TV, Selasa (19/1) dipantau dari Denpasar.

Menurut Prof Wiku terjadi kenaikan sebesar 27,5 persen per 17 Januari dibandingkan minggu sebelumnya dalam perkembangan kasus positif COVID-19 nasional. Bali masuk dalam lima besar dengan posisi keempat.

Baca juga:  COVID-19 Masih Makan Korban Jiwa di Bali, Hari Ini Ada Dua Warga Meninggal Beralamat Sama

Rincian lima besar kenaikan tertinggi pada minggu ini secara berurutan adalah Jawa Barat naik 4.929 kasus, DKI Jakarta naik 4.364 kasus, Jawa Tengah naik 3.986 kasus, Bali naik 806 kasus, dan Sulawesi Selatan naik 792 kasus. “Angka ini merupakan kenaikan tertinggi selama pandemi di Indonesia. Pada umumnya, kenaikan terjadi di angka 10 sampai 15 persen per minggunya. Dengan begitu, angka ini mencatatkan tren perkembangan kasus positif mingguan yang ternyata sudah meningkat selama 12 minggu berturut-turut,” sorotnya.

Ia mengatakan pada minggu sebelumnya, penambahan kasus harian 9.000 hingga 10.000 kasus adalah angka yang sangat tinggi. Namun ternyata di minggu ini, kasus harian bertambah hingga 14.000 kasus. “Hal ini tidak boleh dan tidak dapat ditoleransi,” tegasnya.

Baca juga:  Jumlah Harian Kasus COVID-19 Bali Turun di Bawah 100 Orang, Sayang Kabar Duka Masih Dilaporkan

Terkait lima besar provinsi yang menambahkan kasus tertinggi mingguan, ia mengatakan hampir seluruhnya berasal dari provinsi di Jawa dan Bali, kecuali Sulawesi Selatan. “Kenaikan penambahan kasus sangat tinggi bahkan tertinggi sejak kasus COVID-19 masuk ke Indonesia salah satunya disebabkan verifikasi data yang terlambat masuk sehingga terjadi penumpukan data di beberapa daerah,” jelasnya.

Dengan data yang tidak realtime, kebijakan tidak tepat waktu sehingga tidak efektif. “Kita harus tetap waspada dan pahami bahwa pandemi ini belum usai. Hal ini ditandai dengan positivity rate yang terus meningkat, yang rata-rata nilainya 25,98 persen pada bulan Januari ini,” paparnya.

Baca juga:  Diterjang Puting Beliung, 6 Rumah Rusak di Delodberawah

Untuk itu, penegakan protokol kesehatan yang dimulai dari diri sendiri masih menjadi satu-satunya pencegahan yang paling efektif untuk melindungi diri kita sendiri dan orang-orang terdekat. “Jangan lelah menerapkan 3M karena keberhasilan penanganan COVID-19 tergantung pada kedisiplinan individu,” kata Wiku mengingatkan. (Diah Dewi/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

Captcha *