Peta zonasi risiko penyebaran COVID-19 di Indonesia per 20 Desember 2020. (BP/kmb)

DENPASAR, BALIPOST.com – Perkembangan kasus COVID-19 yang menunjukkan peningkatan dalam sepekan ini membuat peta risiko penyebaran COVID-19 di Bali memburuk. Dari pekan sebelumnya ada dua kabupaten yang masuk zona merah, data per 20 Desember menyebutkan bertambah lagi 2 kabupaten kembali menyandang predikat zona risiko tinggi penyebaran COVID-19.

Dari data zonasi risiko yang dilansir website Satgas COVID-19 Nasional, Bali memiliki 4 kabupaten dengan zona risiko merah dan 5 kabupaten/kota zona risiko orange atau sedang. Adapun yang masuk dalam zona merah adalah Gianyar dan Tabanan yang sudah dua pekan masuk dalam zona ini, ditambah Jembrana dan Badung yang sepekan lalu masih ada di zona orange.

Sementara penyandang zona risiko sedang atau orange adalah Klungkung, Bangli, Karangasem, Buleleng, dan Denpasar. Dari kelima kabupaten/kota ini, Klungkung, Bangli, dan Karangasem sebenarnya dalam sepekan ini sudah minim kasus. Bahkan beberapa kali, 3 kabupaten ini melaporkan nihil kasus baru secara bergantian.

Data Satgas Penanganan COVID-19 Bali menunjukkan kumulatif kasus COVID-19 Bali per 22 Desember mencapai 16.580 orang. Korban jiwa mencapai 487 orang (2,94 persen). Sementara pasien sembuh sebanyak 15.133 orang (91,27 persen), sehingga kasus aktifnya sebanyak 960 orang (5,79 persen).

Dalam siaran persnya ditayangkan langsung di kanal YouTube Sekretariat Presiden, Selasa (22/12) sore, Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19, Prof. Wiku Adisasmito, mengatakan secara nasional zona merah mengalami penurunan pada pekan ini dibandingkan pekan sebelumnya. Yakni dari 64 kabupaten/kota menjadi 60 kabupaten/kota. Penurunan juga terjadi pada risiko sedang. Dari 380 kabupaten/kota menjadi 378 kabupaten/kota.

Baca juga:  Turun di Bawah 4.000 Orang, Jumlah Tambahan Harian Kasus COVID-19 Nasional

Sedangkan pada risiko rendah atau kuning, justru mengalami peningkatan dari 59 menjadi 64 kabupaten/kota. Ia pun kembali menyoroti bahwa mayoritas daerah di Indonesia masuk di zona risiko sedang. “Hal ini tentu berbahaya karena sedikit saja ada kelengahan dalam penanganan kasus periode Nataru, maka terbuka kemungkinan zona risiko sedang berpindah ke risiko tinggi. Jangan sampai hal ini terjadi. Lakukan penanganan yang terbaik, melalui pemasifan 3T dan penegakkan protokol kesehatan sehingga kasus COVID-19 di daerah dapat dikendalikan,” ujarnya.

Arah Kurang Baik

Secara evaluasi, ia mengatakan perkembangan kasus selama seminggu ini menunjukkan arah yang kurang baik. Kasus positif mingguan terdapat kenaikan 12,1 persen dibandingkan minggu sebelumnya. Peningkatan kasus COVID-19 yang menunjukkan tren memburuk ini disebabkan masih adanya penularan dan kurang patuhnya masyarakat dalam Prokes.

Lima besar penyumbang kasus tertinggi hampir sama dengan minggu lalu, kecuali Papua yang sudah berhasil ke luar dari 5 besar. Ia pun merinci kenaikan kasus selama sepekan ini, yaitu DKI Jakarta naik 2.073 orang, Sulawesi Selatan naik 933 orang, Jawa Barat naik 801 orang, Jawa Timur naik 442 orang, dan Kalimantan Timur naik 390 orang. “Ingat mayoritas dari lima provinsi ini merupakan provinsi yang sama pada minggu lalu. Saya meminta kepada provinsi-provinsi tadi yang saya sebutkan, untuk secara menyeluruh mengevaluasi implementasi protokol kesehatan yang dilakukan masyarakat. Jangan sampai 5 provinsi ini terus menjadi penyumbang kasus positif. Ini bukanlah prestasi,” tegasnya.

Baca juga:  Mahasiswa akan Gelar Demo di Renon, Aparat Gabungan Diminta Tak Terpancing

Perkembangan kasus kematian mingguan juga menunjukkan angka yang kurang baik. Terdapat peningkatan 3 persen dibandingkan minggu sebelumnya.

Lima besarnya adalah Jawa Tengah naik 35 orang, Jawa Timur naik 35 orang, DKI Jakarta naik 21 orang, Sumatera Barat naik 17 orang, dan Lampung naik 10 orang. “Masih tingginya angka kasus kematian akibat COVID-19 disebabkan penanganan di fasilitas kesehatan yang belum memenuhi standard sehingga pasien COVID-19 tidak dapat ditangani secara cepat dan efektif sehingga menimbulkan korban jiwa. Untuk itu saya minta provinsi-provinsi yang saya sebutkan untuk segera melakukan evaluasi di fasilitas pelayanan kesehatan,” sarannya.

Dibandingkan dua kategori sebelumnya, perkembangan kasus kesembuhan menunjukkan hal yang positif. Terjadi peningkatan 16,8 persen dibandingkan minggu sebelumnya. “Saya mengapresiasi lima provinsi yang mengalami jumlah kesembuhan pasien yang tinggi. Yakni DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jambi. Walapun demikian jangan sampai lengah, tetap optimalkan upaya pengendalian COVID-19 melalui testing dan tracing sehingga mereka yang positif dan kontak terdekatnya dapat dideteksi lebih dini dan melalui treatment yang baik dan sesuai standard mereka dapat memperoleh penanganan sehingga dapat meningkatkan peluang kesembuhan,” paparnya.

Baca juga:  Meski Zona Merah, Warga Dauh Puri Klod Tak Resah Kedatangan Naker Migran

Ia pun mengingatkan bahwa angka penularan masih tinggi sehingga tidak berkontribusi dalam mengurangi kasus aktif. Perkembangan kasus aktif menunjukkan tren memburuk. Bahkan, sudah menembus angka lebih dari 100 ribu kasus aktif dalam sebulan. “Jika berkaca pada pengalaman sebelumnya dari 10 ribu ke 30 ribu membutuhkan waktu 3 bulan. Selanjutnya dari 30 ribu ke 60 ribu hanya dibutuhkan waktu 2 bulan. Ini hal yang tidak dapat ditoleransi. Ini menjadi alarm bagi kita,” tegasnya.

Disebutkannya penularan masih tinggi di masyarakat sehingga deteksi dini dan treatment harus benar-benar diperhatikan pimpinan daerah. “Bagi pasien COVID-19, saya meminta untuk mengikuti seluruh anjuran dari tenaga kesehatan. Yang sangat disayangkan terdapat penurunan kedisiplinan protokol kesehatan sehingga meningkatkan penularan,” sorotnya. (Diah Dewi/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA *