Dr. Ir. Gede Sedana, M.Sc., M.MA. (BP/Istimewa)

Oleh Dr. Ir. Gede Sedana, M.Sc., M.MA.

Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto menyebut ketahanan pangan sangat penting bagi pertahanan bangsa Indonesia. Menurutnya, alutsista dan infrastruktur yang terhebat tidak memiliki arti yang banyak bila kebutuhan pangan tak tercukupi.

Prabowo menegaskan alutsista yang terkuat, infrastruktur hebat tanpa cukup pangan untuk seluruh rakyat suatu bangsa tidak punya arti banyak. Sejarah menunjukkan bahwa strategi pangan banyak digunakan untuk menguasai sebuah negara.

Kini Presiden Joko Widodo (Jokowi) mencoba mengembangkan bahan pangan melalui pendekatan pertahanan. Pengembangan lumbung pangan di Provinsi Kalimantan Tengah dan Sumatera Utara, dan yang akan dilakukan di beberapa daerah lain. Sepertinya Presiden Jokowi hendak menggabungkan dua metode dalam urusan pengembangan pangan, antara lain pendekatan militer dan nonmiliter.

Ini artinya Presiden menaruh perhatian khusus terkait pemenuhan hak pangan yang merupakan sebuah masalah. Artinya, pemerintah dalam hal ini Presiden semakin meyakini bahwa pemenuhan hak pangan rakyat merupakan masalah strategis menyangkut jatuh bangunnya sebuah negara. Maka, menjaga benteng pertahanan melalui kesiapan cadangan logistik nasional perlu dibangun secara cepat.

Baca juga:  Menunggu Kebijakan Menparekraf untuk Pariwisata

Pembangunan pertanian khususnya di subsektor pangan perlu dimaknai dari tingkat yang paling dasar, yaitu di level petani dan kelompoknya. Sehingga pendekatan-pendekatan yang dilakukan agar berbasis dan berorientasi pada petani. Pendekatan pertahanan dalam mewujudkan penyediaan pangan yang digagas Menteri Pertahanan Republik Indonesia pun jangan sampai mengasingkan keberadaan para petani sebagai produsen. Para petani tidak semata-mata dijadikan alat untuk memproduksi bahan pangan dengan berbagai subsidi sarana produksi, peralatan dan teknologi, tetapi mereka harus hak yang layak dari hasil yang telah mereka kerjakan.

Pendekatan pertahanan yang dimaksudkan adalah ketahanan para petani di dalam mengelola usaha tani tanaman pangan yang menguntungkan secara ekonomis bagi dirinya secara berkelanjutan.

Ini berarti, mereka memiliki motivasi yang tinggi untuk berproduksi dengan berbagai insentif ekonomis, seperti peningkatan produksi, menguatnya posisi tawar petani terhadap produk-produknya dan organisasinya, peningkatan peran di dalam mengakselerasi perekonomian di tingkat lokal, kabupaten/kota, provinsi dan bahkan nasional. Selain itu, pendekatan pertahanan juga agar dimaknai sebagai upaya untuk menjaga nilai-nilai sosial budaya yang terkandung di dalam sistem pertanian di berbagai daerah yang memiliki karakteristik berbeda. Budaya pertanian yang secara turun-temurun diwariskan dari generasi ke generasi masih merupakan modal sosial untuk mendukung penerapan teknologi di era modernisasi.

Baca juga:  Pemilih Tercecer dan Golput Kambing Hitam Pemilu

Pada kasus Bali, pembangunan pertanian memiliki peran multifungsi yang amat strategis. Beberapa fungsi tersebut adalah membangun ketahanan pangan yang merupakan program pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah, yaitu melalui subak-subak. Selain itu, fungsi pelestarian sumber daya alam dan lingkungan juga dapat dimainkan oleh pertanian, seperti aspek hidrologis, ekologis, biologis dan aspek lainnya. Fungsi pertanian lainnya adalah sebagai wahana kesempatan kerja dan kesempatan berusaha serta sumber pendapatan bagi petani dan keluarganya. Fungsi kelestarian sosial budaya juga masih sangat kental terlihat dan dirasakan di Bali karena sektor ini menjadi salah satu pendukung signifikan bagi pembangunan pariwisata budaya.

Baca juga:  Pandemi, Tinggalkan Sikap "Maboya"

Secara ekonomis, pertanian juga memiliki fungsi yang sangat kuat terhadap pembangunan sektor industri, baik yang di hulu maupun di hilir. Pembangunan agroindustri hulu dan hilir di perdesaan dimaksudkan untuk dapat mengelola dan meningkatkan sumber daya manusia perdesaan dan mendorong pengembangan pertanian dari yang orientasi subsisten dan on-farm menuju ke arah orientasi komersial atau agribisnis.

Industri-industri tersebut juga diharapkan untuk meningkatkan diversifikasi produk olahan melalui peningkatan nilai guna produknya (seperti guna bentuk, guna waktu, guna tempat dan guna milik), sehingga pendapatan mereka dapat meningkat pula. Oleh karena itu, pembangunan pertanian, khususnya pangan yang digagas melalui pendekatan pertahanan agar tetap memperhatikan dan menekankan pada basis yang paling mendasar yaitu kebutuhan para petani dan organisasinya. Kekuatan petani dan organisasinya secara langsung atau tidak langsung akan memberikan kontribusi positif bagi pembangunan di berbagai sektor.

Penulis, Rektor Dwijendra University, Wakil Ketua Perhepi Bali

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.