Basarnas melakukan pencarian nelayan hilang. (BP/Istimewa)

MANGUPURA, BALIPOST.com – Dua orang nelayan hilang saat melaut dari Perairan Kelan saat menuju sebelah selatan Tanah Lot. Mereka berangkat pada Minggu (4/10) sekitar pukul 16.00 WITA untuk menjaring ikan tongkol.

Pencarian oleh tim SAR gabungan memasuki hari ke dua, setelah Senin (5/10) malam 2 buah jukung nelayan setempat bergerak melakukan penyisiran. Namun hasilnya nihil. “Informasi awal kami terima kemarin Senin sekitar pukul 17.20 Wita dari bapak Nyoman, Polair Kedonganan,” jelas Gede Darmada, S.E., M.AP. selaku Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Denpasar (Basarnas Bali).

Diketahui identitas kedua nelayan tersebut bernama Heri Widodo (38) dan Diki (21) yang tinggal di Jalan Kecubung, Lingkungan Kelan Abian, Kelurahan Tuban, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung. Menurut informasi dari pemilik jukung, Nyoman Sudiarta, ciri-ciri jukung yang hilang bertuliskan Armada berwarna putih dengan panjang 11 meter dan lebar 120 cm, serta menempel 2 buah mesin.

Baca juga:  Jelang Tahun Baru, Polsek Kuta Buru Penjahat Jalanan

Hari ini, Selasa (6/10) tim SAR gabungan mengerahkan 1 unit Rigid Inflatable Boat (RIB) melakukan pencarian di sekitar perairan yang biasa dilalui korban saat melaut. Darmada memberikan keterangan terkait SRU yang terlibat diantaranya Basarnas Bali, Dit Polair Polda Bali, Dit Samapta Polda Bali, Pos AL Badung, Pos Polair Kedonganan, SAI Rescue Relindo, Senkom, kelompok nelayan setempat dan pihak keluarga.

Fokus pencarian pada operasi SAR hari kedua berada di sekitar perairan Kelan-Tanah Lot. Luas areanya untuk penyisiran RIB kurang lebih 17.4 NM², dengan metode pencarian pararel search. Sementara luas area penyisiran SRU yang menggunakan rubber boat sekitar 10.8 NM². Di tempat berbeda, SRU darat posisi berada di Kelan untuk berkoordinasi dengan nelayan setempat dan selanjutnya melakukan pemantauan ke arah barat dan selatan. “Hasil koordinasi tadi dengan kelompok nelayan Kelan, akan ada upaya pencarian dari mereka nanti pada pukul 09.00 Wita,” ujar Darmada.

Baca juga:  Nelayan Asal Desa Penuktukan Hilang Saat Melaut

Menurut Darmada kondisi cuaca hari-hari terakhir ini memang tidak baik. Bahkan BMKG telah mengeluarkan peringatan dini sejak 3 Oktober 2020, hingga akhir September 2020, pemantauan terhadap anomali iklim global di Samudera Pasifik Ekuator menunjukkan bahwa anomali iklim La-Nina sedang berkembang.

Hal tersebut dapat menyebabkan terjadinya peningkatan akumulasi jumlah curah hujan bulanan di Indonesia hingga 40% di atas normalnya. “Kondisi tingginya curah hujan diperkirakan akan terjadi hingga bulan Oktober, maka kami menghimbau agar berhati-hati saat beraktifitas di perairan, dan selalu lengkapi alat keselamatan diri seperti misalnya berupa life jaket atau media pelampung,” tutup Darmada. (Yudi Karnaedi/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.