A.A. Gde Rai. (BP/kmb)

GIANYAR, BALIPOST.com – Semua komponen kini sedang berupaya membangkitkan kembali kehidupan di Bali, terutama di era pandemi Covid-19 ini. Tentu dalam upaya ini diharapkan Bali bangkit ke arah kualitas, tidak lagi kuantitas.

Khususnya terkait menerima wisatawan yang datang untuk berkunjung. Hal ini diungkapkan A.A. Gde Rai, pemilik Agung Rai Museum Of Art (ARMA), saat wawancara khusus Bali Post Talk serangkaian HUT ke-72 Bali Post, Gerakan Satu Juta Krama Bali Mewujudkan Bali Era Baru, belum lama ini.

Agung Rai mengatakan, Bali memiliki keunikan yang sudah dikenal dunia internasional. Dikatakan, wisatawan selama ini datang untuk mencari kedamaian dan ketenteraman, semua itu hanya dapat ditemukan di Bali. ‘’Di Bali terjadi perpaduan seni dan alam dan kehidupan ritualnya, inilah yang menjadi magnet Bali dan melahirkan pencinta-pencinta Bali yang tersebar di berbagai belahan dunia dan sampai sekarang itu masih,’’ katanya.

Baca juga:  Ini, Hasil Rapat PHDI dan MDA Soal Bali "Sipeng" 3 Hari

Agung Rai mengatakan, keunikan ini harus dipertahankan. Sementara untuk kehidupan pariwisata ke depan, ia meminta harus ke arah pariwisata berkualitas. Kualitas yang dimaksud adalah mendatangkan wisatawan yang bisa menghargai adat budaya Bali. ‘’Kalau memahami ke depan, Bali harus ke arah berkualitas, tidak lagi kuantitas,’’ katanya.

Dari sekian banyak objek wisata dunia, katanya, hanya Bali yang membangun kesadaran setiap wisatawan yang datang. Kesadaran mencakup keharmonisan alam dan kehidupan berkesenian. Budaya pertanian atau agraris juga sangat kental dan Bali juga sangat kental dengan keragaman kesenian yang memiliki ciri khas masing-masing. ‘’Gianyar punya kekhasan, Badung juga ada, antardesa saja bisa punya kekhasan sendiri seperti lukisan khas Padangtegal dan Peliatan itu berbeda. Inilah keunikan Bali yang perlu kita jaga,’’ katanya.

Baca juga:  Sebulan Lebih Tangani COVID-19, Segini Persentase Sembuh Pasien Positif di Bali

Agung Rai juga menceritakan sejumlah karya yang disimpan di museum miliknya. Banyak dari karya tersebut ia peroleh dari museum di Belanda. ‘’Semasa penjajahan banyak karya seniman ternama kita yang dibawa ke Belanda, dan itu saya ambil lagi dan sampai sekarang masih dipamerkan di ARMA Museum,’’ katanya.

Sebagai museum yang ada di Kelurahan Ubud, Museum ARMA memiliki kekhasan tersendiri dengan menekankan konsep Tri Hita Karana. Mulai awal memasuki museum ini sudah merasakan nuansa hutan dengan pohon-pohon besar. ‘’Di Bali ada 32 museum, di Gianyar yang terbanyak. Museum ARMA sendiri memiliki ciri khas berinteraksi dengan lingkungan,’’ ujarnya. (nik)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.