Petani sedang memanen jeruk Kintamani. (BP/ina)

BANGLI, BALIPOST.com – Memasuki musim panen, harga jeruk Kintamani kurang menggembirakan bagi para petani. Sebab per kilogramnya harga jeruk Kintamani hanya laku di kisaran Rp 4 ribu.

Tergolong murah. Petani berharap harga jeruk Kintamani naik saat puncak musim panen, bulan depan.

Seperti yang diungkapkan petani jeruk di Desa Selulung I Ketut Jamin. Dia mengatakan bulan Juli sudah masuk musim panen jeruk.

Di musim panen kali ini, harga buah jeruk dirasakan kurang menguntungkan bagi petani seperti dirinya. Sebab harga jual jeruk jenis siem hanya berkisar Rp 4 ribu per kilogram. Murah dibanding bulan yang sama saat musim panen tahun sebelumnya. “Kalau tahun lalu harganya Rp 6 ribu per kilo,” ujarnya.

Baca juga:  Pengguna Jalan Diberikan Cokelat dan Bunga

Ia mengaku tidak tahu pasti apa penyebab harga jeruk murah. Dengan harga Rp 4 ribu per kilogram, petani tidak bisa menikmati keuntungan. Harga jual tak sebanding dengan biaya produksi.

Bagi petani harga jeruk yang ideal ada di kisaran Rp 7 ribu per kilogram. Dirinya berharap harga jeruk bisa naik saat puncak musim panen yang akan datang pada bulan Agustus. “Kalau puncak panen tahun lalu harganya berkisar Rp 7 ribu per kilo,” kata Jamin.

Baca juga:  Masalah Klasik! Musim Panen Harga Bunga Gumitir Justru Anjlok

Selain Jamin, murahnya harga jeruk juga diungkapkan petani jeruk lainnya Ketut Sandia. Dia menyebutkan harga jeruk Kintamani saat ini berkisar Rp 4 ribu per kilogram. Sedangkan untuk jeruk yang kualitasnya lebih bagus bisa laku Rp 4.500 per kilogram.

Petani jeruk asal Desa Manikliyu ini juga mengaku tidak tahu penyebab harga jeruk murah. Menurutnya kemungkinan karena daya beli masyarakat rendah.

Dengan harga yang murah seperti sekarang, dirinya hanya bisa pasrah. Sandia hanya bisa berharap harga jeruk naik saat puncak panen di bulan Agustus sampai September.

Baca juga:  Tabanan Ekspor 10 Ton Beras Merah Cendana

Diprediksi ketika terjadi kenaikan saat puncak panen harga jeruk maksimal Rp 6 ribu per kilogramnya. “Hanya bisa pasrah saja sambil menunggu harga lebih bagus. Kalau sampai tidak bisa ditahan dan sudah terlalu matang, ya … mau tidak mau harus dijual dari pada busuk,” imbuhnya. (Dayu Swasrina/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.