DENPASAR, BALIPOST.com – Sejatinya, Bali meloloskan 21 pejudo pada PON XX di Papua Oktober 2021 mendatang. Akan tetapi, Bali hanya boleh mendaftarkan 16 pejudo. Alasannya, tiap provinsi tidak boleh mengirimkan dua atlet pada kelas yang sama. Kendati demikian, kelima pejudo yang tidak didaftarkan ke PON, tetap diajak latihan bersama, guna mengantisipasi kemungkinan kelima atlet yang didaftarkan tidak bisa tampil.

Ke-16 pejudo yang didaftarkan sesuai dengan entry by name adalah I Kadek Adi Wirawan (-73 kg), I Putu Sukaryasa (-66 kg), Putu Wiradamungga Adesta (-81 kg), I Kadek Rakyanda Adyatama (-90 kg), Gede Ganding Kalbu Soethama (-100 kg), I Gede Agastya Dharma Wardana (+100 kg), Ni Kadek Anny Pandini (-57 kg), Kadek Ayu Intan Lestari (-63 kg), Fania Farid (-78 kg), I Dewa Ayu Mira Widari (+78 kg), Komang Wibawa Kusuma (55 kg), I Made Arianta (-60 kg), Tiwi Anjelina (-45 kg), I Gusti A Diah Cahya Ningrat (-48 kg), Ni Made Aprianingsih (-52 kg), dan I Gusti Ayu Putu Guna Kakihara (-70 kg).

Baca juga:  Menganggur, Atlet Terpaksa Edarkan Narkoba

Sementara, lima atlet yang merebut tiket PON tetapi tidak didaftarkan adalah I Komang Ardiartha (-73 kg), I Wayan Gede Bima Prasetya (-81 kg), I Dewa Gede Wisnu Baruna (-90 kg), I Made Adhi Putra Suardana (+100 kg), serta Ni Luh Ade Swandewi Putri (-78 kg). “Kelima pejudo ini tetap diajak berlatih bersama atlet PON. Tujuannya, untuk mengantisipasi kemungkinan atlet di kelas yang sama tidak bisa berlaga pada PON di Bumi Cendrawasih,” ungkap Ketua I Pengprov PJSI Bali, Nengah Sudiartha, di Denpasar, Kamis (23/7).

Baca juga:  Atlet PON Berhenti Latihan Fisik di Lapangan Renon

Sudiartha menambahkan, selama ini para atlet berlatih secara mandiri di rumah masing-masing, dan tiap hari Minggu berlatih bersama di GOR Lila Bhuana. Para pejudo PON ini ditangani pelatih Ni Made Suyudani, Nyoman Sumerta, Wayan Mudra, Agus Putra Adnyana, serta Made Pura Cendana. “Materi latihan tetap difokuskan pada penggenjotan fisik dan stamina, sebab tidak boleh bersinggungan, dan tetap pakai masker, menjaga jarak serta rajin mencuci tangan,” papar Sudiartha.

Baca juga:  Tanpa Anggaran, ASN Diminta Jangan Malas-malasan

Diakuinya, pada PON di Jabar 2016 silam, tiap provinsi boleh menurunkan dua atlet pada tiap kelas. Namun, aturan ini tidak berlaku pada PON Papua, meskipun tiap kelas sama-sama meloloskan delapan pejudo. Ia mengisahkan, pada PON Jabar, pejudo Bali mendulang 2 emas, 4 perak dan 6 perunggu. Akan tetapi, pada PON Papua, Sudiartha menekankan kepada pejudo Bali agar senantiasa konsentrasi mengincar emas, dan bukan lagi membidik perak atau perunggu. “KONI Bali mematok target 4 emas, sedangkan PJSI Bali memburu 5 emas,” tuturnya. (Daniel Fajry/Balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.