DENPASAR, BALIPOST.com – Jumlah kasus positif COVID-19 di Indonesia belum menunjukkan penurunan. Bahkan pada Kamis (2/7), jumlahnya mengalami kenaikan signifikan. Merupakan yang tertinggi sejak wabah COVID-19 melanda.

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19, Achmad Yurianto, dalam konferensi pers streamingnya, mengatakan per pukul 12.00 WIB, 23.519 spesimen diperiksa. Total sebanyak 849.155 pesimen sudah diperiksa. Tes spesimen menggunakan metode Polymerase Chain Reaction (PCR) dan Test Cepat Melokuler (TCM).

Dari tes tersebut, ada penambahan kasus positif sebanyak 1.624 orang. Sehingga kumulatifnya mencapai 59.394 kasus.

Baca juga:  Kebakaran di Kemenhub, Empat Orang Tewas

Ada 5 provinsi yang tambahan kasus COVID-19 cukup besar. Yakni Jawa Timur, DKI Jakarta, Sulawesi Selatan, Jawa Tengah, dan Kalimantan Selatan. Ia pun mengatakan ada beberapa provinsi melaporkan kasus baru lebih sedikit dari kasus sembuh.

Sebanyak 16 provinsi melaporkan kasus di bawah 10. Sementara ada 6 provinsi melaporkan tidak ada tambahan kasus, diantaranya Aceh, Bangka Belitung, dan Jambi.

Dikatakan penambahan kasus baru yang diiringi jumlah pasien sembuh yang tinggi menyebabkan tingkat hunian RS di Indonesia masih bisa dikendalikan. Tingkat hunian rata-rata RS di Indonesia masih mencapai angka 55 persenan.

Baca juga:  Kasus Baru di Bali, Lagi-lagi Didominasi Transmisi Lokal COVID-19

Yurianto melanjutkan untuk yang sehat ada penambahan 1.072 orang sembuh sehingga totalnya menjadi 26.667 pasien. Kasus meninggal bertambah 53 orang sehingga total kasus menjadi 2.987 orang.

Disebutkan sebanyak 40.778 orang masih dalam pemantauan dan pasien dalam pengawasan (PDP) mencapai 13.359 orang. “Bahwa melakukan protokol kesehatan dengan ketat, dengan disiplin, adalah upaya memutus penyebaran COVID-19,” ujarnya.

Ia mengatakan jika ini dilakukan, maka akan bisa produktif. Dengan artian, masyarakat melakukan new normal. “Jika kita memahami betul mekanisme penyebaran COVID-19 ini, yang ditularkan oleh orang yang sakit, yang harus kita lakukan mengubah kebiasaan kita. Oleh karena itu perlu adaptasi perubahan yang baru, diantaranya selalu menjaga jarak, setidaknya lebih dari 1 meter, menggunakan masker, dan mencuci tangan menggunakan sabun,” kata Yurianto.

Baca juga:  Fase Equilibirium, Gunung Agung Perlu Setahun Kembali Normal

Ia pun menekankan kebiasaan ini harus menjadi budaya yang baru. “Inilah yang menjadi upaya yanh kita lakukan. Semua bangsa pun melakukan hal yang sama karena kekebalan buatan dengan vaksin belum bisa dilakukan. Mari kita harus aman dari COVID-19 dan produktif,” tegasnya. (Diah Dewi/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.