Wisnuardhana. (BP/rin)

DENPASAR, BALIPOST.com – Pertanian menjadi sektor yang mampu bertahan di tengah pandemi COVID-19. Potensinya pun ternyata masih cukup besar di Bali.

Optimalisasi lahan pertanian, bahkan mulai dari pekarangan rumah bisa menjadi modal untuk menuju ketahanan pangan. “Sekarang kan pertanian itu lagi ngetren. Banyak pertanyaan, kenapa koq pertanian tangguh sekali dalam segala situasi termasuk dalam situasi COVID-19,” ujar Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, Ida Bagus Wisnuardhana di Denpasar, Kamis (25/6).

Sepanjang ada faktor produksi seperti lahan dan air, lanjut Wisnuardhana, maka petani akan tetap bisa bertani. Di samping karena faktor budaya atau terikat dengan tradisi. Itulah beberapa hal yang membuat pertanian tetap tangguh selain karena tujuan utamanya adalah menyiapkan pangan.

Saat ini, pihaknya juga mengoptimalisasi pemanfaatan lahan pekarangan atau urban farming untuk ketahanan pangan rumah tangga. Peraturan Gubernur (Pergub) tentang pemanfaatan tanaman lokal Bali untuk optimalisasi pemanfaatan lahan pekarangan, telajakan, dan bahu jalan bahkan sudah ada.

“Karena setiap rumah tangga pasti punya pekarangan. Daripada nganggur, ya optimalkan. Ditanam dengan tanaman pangan kebutuhan sehari-hari,” jelasnya.

Bicara potensi pertanian di Bali, Wisnuardhana menyebut kalau dijumlahkan seluruhnya, setengah lebih wilayah Bali sebetulnya masih berupa lahan pertanian. Baik itu sawah maupun lahan pertanian kering. “Sawah kita 79.500 hektar, jadi 14 persen Bali ini masih lahan sawah. Kemudian lahan pertanian bukan sawahnya lebih dari 230.000 hektar,” terangnya.

Menurut Wisnuardhana, Bali memiliki 1.605 subak dan 1.118 subak abian. Ada banyak komoditi unggulan yang dihasilkan dari sektor pertanian.

Ini lantaran pulau dewata didukung oleh alam yang bagus. Dari topografinya, ada pegunungan dan dataran rendah. “Masalah kita sebenarnya, tantangan kita di pertanian cuma alih fungsi lahan sama keterbatasan irigasi,” katanya.

Terkait alih fungsi lahan, Wisnuardhana menyebut relatif masih cukup tinggi untuk lahan sawah. Setiap tahunnya, sawah mengalami alih fungsi kurang lebih 800 hektar.

Kemudian bicara irigasi, saat ini sudah mulai ada persaingan pemanfaatan air dengan sektor domestik. Selain itu, kesulitan air juga kerap dialami saat musim kemarau. Disamping ada tantangan lain pula berupa hama penyakit.

“Kenapa alih fungsi lahan sawah kita relatif cukup tinggi, barangkali karena dari segi penegakan hukumnya kurang ketat,” jelasnya.

Menurut Wisnuardhana, tantangan air atau irigasi, hama, bahkan insentif usaha tani yang dirasa tidak menguntungkan sebetulnya turut mendorong alih fungsi lahan. Oleh karena itu, edukasi mesti lebih digencarkan lagi.

Begitu juga penerapan regulasi menyangkut tata ruang agar tidak dilanggar untuk mengendalikan alih fungsi lahan. Hal ini tidak lepas dari visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali agar sektor pertanian di Bali tetap ajeg. “Oleh karena alih fungsi lahan sawah ini juga karena kekurangan irigasi, sawahnya kering, kita banyak sekarang membangun infrastruktur irigasi,” katanya.

Wisnuardhana menambahkan, ada 49 embung yang kini dibangun. Pihaknya juga melaksanakan rehabilitasi jaringan irigasi, serta memberikan bantuan subsidi bagi petani. Walaupun diakui belum semua petani tersentuh bantuan itu. (Rindra Devita/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.