Ilustrasi. (BP/Suarsana)

Pembatasan aktivitas guna mengantisipasi penyebaran virus Corona tak hanya terbatas di lingkup pemerintah maupun pendidikan, namun juga aktivitas masyarakat secara umum. Polemik muncul ketika aktivitas keagamaan dan tradisi yang melibatkan banyak orang turut dibatasi. Demikian halnya untuk rangkaian hari raya Nyepi Tahun Çaka 1942.

Arahan agar tak melibatkan banyak orang pada ritual melasti hingga pembatasan atau peniadaan pawai ogoh-ogoh, memicu pro dan kontra. Di akun Facebook @balipost, netizen turut memberikan pandangannya atas hal ini. Sebagian netizen mengingatkan agar ritual dan tradisi pada rangkaian Nyepi tetap dijalankan seperti biasanya.

Masyarakat Bali tak boleh khawatir berlebihan, sebab ritual dan tradisi pada Sasih Kasanga bermakna menetralisir energi buruk di bhuana agung dan bhuana alit. Sebaliknya, sebagian netizen beranggapan, masyarakat Bali tidak boleh meremehkan seruan pemerintah mengenai social distancing. Mereka khawatir, jika upaya antisipasi tidak dilakukan serentak, Covid-19 tidak bisa ditangani maksimal.

Baca juga:
Transparansi APBD

Darmanta Wayan

Pangerupukan datang setiap tahun, kalau sekarang kondisi dunia sedang gawat lalu kita kena karena bandel, bisa tahun depan kita tidak bisa melihat pawai ogoh-ogoh.

Kade Yasa

Salut kepada Kabupaten Gianyar dan seharusnya bisa diikuti juga dengan kabupaten lain di Bali. Keselamatan paling utama. Nyepi ada tiap setahun sekali.

I Gede Darmayasa

Jangan bandel-bandel, toh demi kepentingan bersama, bukan untuk diri sendiri. Saatnya berpindah, bukan dolar yang utama tapi kesehatan lebih utama. Sudah sehat, dolar akan datang lagi.

Budhi Setiawan

Ajeg tradisi, pokoknya ikuti alur tradisi.

Sastra Pratyahara

Katanya pariwisata aman, sekarang batal. Plinplan sama hal yang sangat serius. Kenapa tidak dari awal lakukan langkah yang menghambat lajunya? Demi dolar?

DesyAntari

Kan enggak selamanya, kalau mau dengar dan lakukan imbauan perintah. Astungkara semua selamat rahayu dan berikutnya bisa dilaksanakan lagi.

Baca juga:
Prioritaskan Nyawa Manusia

Putra Dimas Junior

Tidak apa tahun ini pak, tahun depan kan bisa. Daripada sekarang bisa, tahun berikunya terus enggak bisa.

Dek Junn Junn

Kasihan pemudanya tidak dapat bersenang-senang demi kesehatan. Setelah Corona arak ogoh-ogohnya supaya tidak rugi.

Bajil Aks

Terlalu takut, sekalian pasar tutup juga pak. Tempat-tempat keramaian tutup senggol, dll. Semua warga di rumah, terutama bandara tutup, bukan hanya pas Nyepi.

Krisna Bali Buddy

Saya kok gagal paham ya, yang ingin menghilangkan tradisi siapa ya? Berhubungan dengan kasus virus Corona, ini memang harus ditanggapi dengan serius untuk memutus penyebarannya dan harus dilakukan serentak. Astungkara selamat semuanya. Kalau sampai ada yang kena Corona, satu orang saja, akan berpotensi menyebar ke banyak orang. Jangan sampai Bali seperti Italia. Mereka yang punya fasilitas kesehatan dan alat-alat lebih canggih juga collaps apalagi kita. Ini yang tidak diinginkan pemerintah. Bukannya jadi bias dianggap melarang kegiatan keagamaan atau tradisi.

Baca juga:
Fenomena Hujan Es

Yan AR

Mantap, harus yakin! Tidak perlu takut jero, laksanakan segala rentetan upacara menjelang Nyepi.

I Gusti Agung Drughi

Tradisi harus dipertahankan, besok kalau banyak yang kena virus terus mati, siapa yang akan diminta mempertahankan tradisi? Pikirkan juga anak-anak penerus generasi. Dalam kondisi begini jangan ego beragama dijadikan pembenar.

Sariani Dewi Bagus

Jangan sampai ketakutan berlebih membuat kita mengabaikan upacara keagamaan kita. Astungkara rahayu sareng sinamian.

I Gusti Agung Drughi

Ingat, virus Corona bukanlah tanggung jawab pemerintah daerah, pusat, suatu atau beberapa negara, ataupun WHO. Bencana pandemi virus Corona ini merupakan tanggung jawab kita bersama selaku penduduk bumi.

Dewa Setiawan Rendang

Beragama dan logika jalankan. Kalau cuma ogoh-ogoh, Nyepi setahun lagi kan masih ada.

BAGIKAN