Perajin ogoh-ogoh sedang menyelesaikan pesanan. (BP/dok)

DENPASAR, BALIPOST.com – Ogoh-ogoh atau boneka raksasa merupakan salah satu tradisi umat Hindu khususnya di Bali yang ditampilkan dalam pawai “Pengerupukan”, tepat sehari sebelum Hari Raya Nyepi. Pembuatan ogoh-ogoh di Bali yang merupakan daerah pariwisata ini lebih banyak dilakukan generasi muda.

Mereka menuangkan kreativitas seni, khususnya seni patung, gamelan, tari dan undagi. Kreativitas ini menjadi semakin kental, manakala dikaitkan dengan ritual (upacara keagamaan), sehingga ogoh-ogoh yang dibuat cenderung ke hal yang menyeramkan, seperti raksasa.

Oleh karenanya, Ogoh-ogoh merupakan tradisi yang akan terus ada dari masa ke masa. Sebab, merupakan sebuah seni dan kreativitas tanpa batas oleh anak muda.

Baca juga:  Lomba Ogoh-Ogoh di Denpasar, Kecamatan Ini Jadi yang Pertama Dinilai

Bahkan, hari raya Tahun Baru Caka ini ditunggu-tunggu oleh anak muda di Bali. Karena pada hari raya ini mereka bisa mengekspresikan kreativitas seni mereka dalam kreativitas ogoh-ogoh. “Dalam penggarapan ogoh-ogoh ini banyak kreativitas seni yang bisa digarap untuk dikolaborasikan. Sebab tidak hanya undagi ogoh-ogoh, tetapi seni tari dan musik gamelan juga turut ditampilkan untuk menunjang penampilan ogoh-ogoh saat pawai yang melibatkan seluruh anggota seka truna, bahkan anak-anak yang belum masuk sekaa truna dan krama banjar bersangkutan,” ujar seniman muda yang juga mantan Ketua ST Tunjung Mekar, Abiannangka Klod, Denpasar, Ida Bagus Eka Haristha, S.Pd., Sabtu (14/3).

Baca juga:  Perayaan HUT ke-70 Republik Rakyat Tiongkok Berlangsung Meriah

Lebih lanjut dikatakan, bahwa dalam proses penggarapan ogoh-ogoh dan kreativitas seni di dalamnya tidak serta merta hanya untuk membuat ogoh-ogoh. Namun, ada makna yang tersirat di dalamnya.

Yaitu, rasa kebersamaan antar anggota sekaa truna dan krama sekitarnya. Sebab, dalam proses penggarapannya membutuhkan waktu yang cukup lama dan partisipasi dari berbagai pihak.

Seperti, para senior yang telah biasa menggarap ogoh-ogoh di banjar setempat yang dijadikan panutan dan koordinator dalam proses pembuatannya. Tidak hanya itu, peran masyarakat juga sangat diperlukan, terutama dalam hal pembiayaan (donatur). “Kebersamaan inilah yang kita dapatkan dalam penggarapan ogoh-ogoh, karena di dalamnya ada pramentari yang biasanya melibatkan para pemudi, seniman tabuh, dan tukang tegen ogoh-ogoh yang akan berperan ngigelang ogoh-ogoh. Di sinilah dibutuhkan komunikasi dan kebersamaan yang baik dalam prosesnya,” tandas pria yang akrab di sapa Gus Eka ini. (Winatha/balipost)

BAGIKAN