Wisatawan berada di Pantai Kuta. (BP/dok)

DENPASAR, BALIPOST.com – Melihat penyebaran virus Corona (COVID-19) yang sudah dikategorikan pandemi oleh World Health Organization (WHO), mobilitas warga akan makin terbatas. Kondisi ini tentunya akan menjadi ancaman bagi Bali yang mengandalkan pariwisata.

Menurut Guru Besar Ekonomi Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas) Prof. Gede Sri Darma, ST., MM., D.B.A., Rabu (11/3), COVID-19 merupakan ancaman luar biasa bagi perekonomian dunia. Ibaratnya, dunia saat ini mengalami “Nyepi” dalam beberapa bulan ke depan.

Sehingga, ia memprediksi, mereka yang terjun dalam dunia pariwisata, entertainment, dan sport akan berhenti sejenak. Pada sektor ini sangat sulit memberikan mereka kreativitas inovasi dalam waktu yang singkat.

Baca juga:  Ogoh-ogoh Tolak Reklamasi Ramaikan Pengerupukan Nyepi

Ia memperkirakan penyebaran COVID-19 ini bisa terjadi hingga 6 bulan ke depan. Bahkan, paceklik wisatawan ke Indonesia diperkirakan bisa terjadi hingga akhir tahun 2020.

Meskipun berbagai upaya telah dilakukan pemerintah, seperti memberikan bantuan kepada daerah tujuan wisata, memberlakukan promo penerbangan, dan tidak memungut PHR, namun hal tersebut akan tetap tidak berjalan maksimal. Sebab, korban COVID-19 telah menjangkit warga Indonesia.

“Event apapun yang dirancang oleh Pemerintah Provinsi Bali saat ini, saya kira tidak akan efektif, karena tidak ada masyarakat yang berani berpergian. Saya gak yakin, apalagi Bandara Bali merupakan bandara internasional yang kedatangan banyak tamu asing yang kita tidak kenal apakah mereka terjangkit virus corona atau tidak,” tandasnya.

Baca juga:  Siaga I, Pintu Masuk Kantor Polisi Dijaga Ketat

Oleh karena itu, guna mengantisipasi hal tersebut peran pemerintah sangat diharapkan bisa memberikan talangan kepada perusahaan kecil yang terdampak COVID-19 tersebut. Dan bagi perusahaan besar harus menggunakan keuntungan sebelumnya untuk menggaji karyawannya.

“Ya bagi mereka yang memiliki laba sebelumnya, bolehlah meminjam laba itu dulu untuk sementara untuk membayar karyawan. Sehingga mereka tidak usah dirumahkan. Sangat tidak elok kalau karyawan dirumahkan, karena mereka juga harus diperhatikan di tengah tidak produktifnya perusahaan,” ujar Prof. Sri Darma.

Baca juga:  Transmisi Lokal Dominasi Kasus Baru COVID-19 di Bali, 65 Persennya Disumbang Dua Daerah Ini

Melihat kondisi tersebut, Prof. Sri Darma memprediksi inflasi akan tetap terjadi, karena pertumbuhan ekonomi rendah. Apalagi, inflasi terjadi tergantung pada sumber-sumber makanan.

Meskipun, cadangan pangan di Indonesia saat ini dinyatakan masih aman. “Yang bahaya adalah barang-barang impor yang kita lakukan selama ini dari beberapa negara yang terjangkit COVID-19. Kalau gak datang otomatis harga semakin tinggi, kalau harga semakin tinggi barang tidak ada, otomatis inflasi terjadi,” ujarnya. (Winatha/balipost)

BAGIKAN