Penumpang turun dari Bus Trans Metro Dewata, Jumat (21/3/2025). (BP/Agus Pradnyana)

DENPASAR, BALIPOST.com – Animo masyarakat terhadap layanan Bus Trans Metro Dewata (TMD) di Bali menunjukkan tren peningkatan sejak pengelolaannya beralih ke Pemerintah Provinsi Bali. Rata-rata jumlah penumpang harian tercatat naik dibandingkan saat masih dikelola pemerintah pusat.

Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Bali, I Kadek Mudarta, menjelaskan bahwa pada 2024 saat layanan masih dikelola pemerintah pusat, rata-rata tapping atau transaksi penumpang harian berada di kisaran 4.400 orang.

“Di tahun 2025 ketika sudah dikelola oleh Pemprov Bali dengan penganggaran bersama, rata-rata tapping harian mencapai sekitar 4.700. Jadi ada peningkatan hampir 7 persen,” ujarnya, Selasa (10/3).

Menurut Mudarta, peningkatan tersebut menunjukkan layanan transportasi publik mulai diminati masyarakat. Meski demikian, pihaknya masih akan mengecek kembali data terbaru setelah layanan berjalan dua bulan di tahun 2026 ini. “Kita berharap jumlah penumpang akan terus meningkat,” harapnya.

Baca juga:  Audit Dana Kampanye Pilkada, KPU Badung Akui Salah Input Data

Untuk mendukung peningkatan layanan, tahun 2026 Pemprov Bali mulai merencanakan pembangunan sejumlah halte secara bertahap. Pembangunan ini dilakukan menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) serta melalui kerja sama dengan pihak lain. “Tahun ini kita mulai pengadaan prasarana, salah satunya halte di lokasi yang banyak digunakan penumpang,” katanya.

Melalui APBD 2026, pemerintah baru menganggarkan pembangunan dua unit halte. Salah satu lokasi yang direncanakan berada di depan Duta Plaza Denpasar, karena dinilai menjadi titik dengan aktivitas penumpang cukup tinggi.

Sementara satu halte lainnya masih dalam tahap kajian lokasi, dengan beberapa alternatif seperti kawasan pertokoan di Jalan Thamrin serta wilayah Titi Banda. Namun untuk Titi Banda masih membutuhkan koordinasi lintas instansi karena berada di jalan nasional.

“Kita lihat dulu yang kebutuhannya tinggi dan koordinasinya lebih sederhana, terutama di jalan provinsi. Tapi Titi Banda juga sangat layak karena berpotensi menjadi halte integrasi,” katanya.

Baca juga:  Ribuan Wisatawan Antusias Saksikan Parade Ogoh-ogoh

Saat ini layanan Trans Metro Dewata masih beroperasi di enam koridor seperti tahun sebelumnya. Sementara Bus Trans Sarbagita difokuskan pada satu koridor menuju kawasan Bukit Jimbaran.

Selain itu, Dishub Bali juga akan kembali mengoperasikan layanan bus yang melayani rute menuju Kampus UHN I Gusti Bagus Sugriwa di Gianyar dan Bangli mulai 1 April 2026. Operasional sempat ditunda karena proses lelang, perizinan kendaraan, serta menyesuaikan masa libur semester.

Di sisi lain, Pemprov Bali juga bersiap menerima hibah bus listrik untuk memperkuat transportasi ramah lingkungan. Sedikitnya 10 unit bus listrik direncanakan datang melalui dukungan Global Green Growth Institute (GGGI) yang didanai pemerintah Korea.
“Kendaraannya sekarang masih proses karoseri. Kalau lancar kemungkinan selesai sekitar Juli, (Tahun 2026,red)” jelas Mudarta.

Baca juga:  Polres Buleleng Tangkap 3 Pengedar Sabu

Meski kerap muncul anggapan bus Trans Metro Dewata sepi penumpang, Mudarta menegaskan data menunjukkan sebaliknya. Menurutnya, rata-rata sekitar 4.700 penumpang menggunakan layanan tersebut setiap hari.

“Kadang bisa 5.000, kadang 4.500. Itu rata-rata dari April sampai Desember. Jadi kalau ada yang bilang bus hantu, kita kembalikan ke data saja,” tegasnya.

Ia menambahkan, seperti layanan transportasi umum di kota lain, pola penumpang TMD juga dipengaruhi jam sibuk. Pada pagi hari bus cenderung penuh, sementara siang hari relatif lebih lengang.

Dishub Bali juga rutin melakukan evaluasi terhadap setiap koridor, termasuk yang memiliki tingkat keterisian rendah. Namun koridor tersebut tetap dipertahankan karena berfungsi sebagai penghubung yang mendukung koridor lain. “Angkutan umum itu sifatnya saling terhubung. Koridor yang sepi juga bisa menjadi feeder untuk koridor yang lebih ramai,” pungkasnya. (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN