selingkuh
Ilustrasi

DENPASAR, BALIPOST.com – Perilaku remaja memfoto dirinya tanpa busana bahkan merekam adegan seksual bersama pasangannya saat ini sering muncul di media sosial. Entah karena sengaja atau tidak sengaja.

Kondisi ini tentu memprihatinkan. Mengingat jika foto maupun video tersebut beredar di media sosial akan mempengaruhi masa depan dari remaja itu sendiri.

Dokter spesialis kejiwaan RSUP Sanglah, dr. Ida Ayu Kusuma Wardani, SpKJ, Sabtu (1/2) mengatakan remaja melakukan perbuatan ini biasanya karena ingin mencari perhatian. ”Pada dasarnya remaja ini kurang perhatian di rumah. Mereka lebih diberikan materi oleh orangtua. Karena ini mereka mencari perhatian dengan cara yang salah,” ujarnya.

Meski mencari perhatian dengan cara yang salah, remaja-remaja ini akan merasa terpicu jika mereka mendapatkan komen negatif maupun yang menantang. Mereka akan melakukan hal yang lebih eksrem hanya karena merasa tertantang dengan komen-komen tersebut. ”Sensasi ingin diperhatikan dan menantang komen negatif membuat mereka melakukan hal yang lebih ekstrem,” ujar Dayu.

Terlebih dari penelitian, menurut Dayu, remaja saat ini paling banyak main di platform Instagram. Followers dan like menjadi sebuah acuan jika kontennya menarik dan dikenal banyak orang.

Biasanya remaja yang kurang perhatian dan ingin dirinya menonjol, cenderung akan melakukan hal-hal negatif agar mendapatkan followers dan like tersebut. ”Remaja yang menganggap like dan followers di Instagram adalah sesuatu hal yang penting cenderung depresi jika melihat temannya lebih banyak mendapatkan followers ataupun like. Inilah yang terkadang memicu mereka melakukan hal ekstrem,” ujarnya.

Lanjut Dayu, remaja saat ini juga diketahui suka mengakses video porno. Dari awalnya penasaran sampai menjadi ketagihan dan akhirnya mempraktikannya. ”Demi perhatian mereka ada yang merekam kegiatan seksualnya kemudian menunjukkan pada teman-temannya. Disinilah awal adanya penyebaran lewat media sosial,” ujar Dayu.

Jika sudah tersebar, yang terancam adalah masa depan remaja itu sendiri. Apabila lingkungannya mem-bully, remaja rentan mengalami depresi.

Agar remaja terhindar dari perbuatan ini, langkah penting yang dilakukan orangtua tentu memberikan perhatian yang cukup pada remaja. Akses internet mereka dibatasi.

Saat mereka tidak berselancar di dunia maya, orangtua mengajak mereka bicara, melakukan kegiatan positif atau sekedar menghabiskan waktu bersama-sama. ”Dengan membatasi pemakaian internet remaja dan memberikan mereka perhatian, merupakan cara menghindari remaja melakukan perbuatan negatif,” ujar Dayu. (Wira Sanjiwani/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.