Ilustrasi. (BP/dok)

Tidak bisa dimungkiri, era digitalisasi membawa berkah pada calon serta para pengusaha kecil pada umumnya. Kemungkinan untuk berkembang sangatlah luas serta lebar mengingat moda media sosial yang sangat beragam memberikan ruang tersebut.

Kalau dibandingkan dulu, ketika dunia komunikasi massa tidaklah sehebat sekarang, maka kendala utama adalah permodalan serta peluang untuk pemasaran. Di samping ada faktor internal lain yang melekat pada diri pengusaha kecil itu sendiri. Seperti pengetahuan serta kecakapan soal pengelolaan keuangan serta manajemen.

Sekarang hal itu sudah terlewati. Setidaknya peluang serta kemungkinan sudah terbuka. Pengusaha online kita menjual barang di dunia maya. Yang start-up pun sudah pula banyak. Tantangan sekarang adalah kemampuan untuk berkreasi, inovasi serta meningkatkan kompetensi.

Baca juga:  Mendesain Metode Pembelajaran yang Berpihak pada Anak 

Jendela untuk berbagi serta mencari ilmu dan tips sudah banyak di media sosial. Mencari sendiri dan menemukan sendiri. Itu salah satu kunci penting. Jangan sampai kesempatan emas ini terlewatkan begitu saja. Sangat sayang kalau tidak ikut berbagi di dalamnya.

Lain peran pemerintah serta lembaga terkait di mana? Tentu saja masih ada dan penting. Setidaknya ini memberikan dorongan moral serta finansial. Masih diperlukan dan mutlaklah itu walaupun titik sentralnya tetap pada pengusaha itu sendiri.

Baca juga:  Siap Hidup Lacur Tanpa PHR

Pengusaha milenial saat ini cenderung berada pada wilayah UKM. Mereka energik, fleksibel, penuh dengan ide dan sebagainya. Sangat sayang kalau kemampuan ini tidak ditampung dan diberikan saluran yang pas. Apalagi di Bali.

Dengan potensi local genius yang ada tentu tidak terlalu sulit untuk lebih mengembangkan lagi. Yang paling dekat tentu yang berkaitan dengan pariwisata kekinian yang mementingkan experience serta hal-hal baru, cenderung anti mainstream dan akrab dengan media sosial. Inilah pasar yang mesti digarap kalangan milenial.

Baca juga:  UMKM Harus Tampil Kekinian

Yang pasti pelaku UMKM Bali harus peka pasar dan memiliki daya saing. Kecakapan mengelola pasar juga amat penting. Kecakapan komunikasi jangan diabaikan mengingat di era digital ini kecakapan komunikasi justru sangat strategis.

Kecakapan memengaruhi lawan komunikasi termasuk memengaruhi calon pembeli juga diperlukan. Kualitas produk yang bagus tanpa diimbangi kemampuan mempromosikan juga akan menghambat pertumbuhan dan penjualan. Yang pasti harus ada langkah terukur dan keberanian melakukan evaluasi produk dalam merebut pasar digital. Pergeseran selera konsumen yang cepat juga harus diantisipasi.

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.