JAKARTA, BALIPOST.com – Pimpinan Pusat Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (KMHDI) melakukan pertemuan dengan pimpinan dari Elvindo di Pantai Indah Kapuk, Kamis (16/1). Bersama Forum Alumni KMHDI dan Anggota DPR RI, Nyoman Parta, PP KMHDI melakukan pertemuan terkait tindak lanjut dari protes yang dilakukan KMHDI kepada Elvindo karena penggunaan nama Veda.

Dikutip dari website www.kmhdi.org, Ketua Presidium PP KMHDI I Kadek Andre Nuaba mengatakan bahwa hal ini dilakukan sebagai bentuk fungsi controlling system KMHDI. Khususnya dalam bidang agama sekaligus memberi edukasi untuk lebih berhati-hati dalam mengutip suatu hal agar tidak memunculkan permasalahan yang berujung konflik. “Kami (KMHDI) berpandangan ini sebagai bentuk fungsi controlling system KMHDI dalam bidang Dharma Agama, paling tidak permasalahan ini bisa memberi Edukasi bagi masyarakat ke depanya untuk lebih berhati-hati dalam mengutip sesuatu hal agar tidak memunculkan konflik,” kata Andre Nuaba.

Baca juga:  Empat Puskesmas Rawat Inap jadi Tempat Isolasi Covid-19

Presiden Direktur Elvindo Hengky Wijaya mengatakan Elvindo menyambut baik pertemuan ini. Ia sangat berterima kasih kepada KMHDI karena sudah mengingatkan sejak dini sebelum produk mereka meluncurkan sehingga dapat diperbaiki dan tidak menimbulkan kerugian besar.

“Kami sangat mendengar masukan masyarakat, dari sini kita belajar juga untuk lebih berhati-hati dan harus ada tim ahli agar tidak ada kesalahan lagi,” ujar Hengki.

Elvindo menyampaikan permohonan maaf atas ketidaktahuannya tersebut yang mengira Veda dan Weda itu berbeda. Karena tujuan awal penggunaan nama tersebut ingin mengangkat budaya Indonesia dan mempopulerkan kembali tokoh-tokoh pewayangan yang ada.

Baca juga:  Pasca-erupsi Gunung Agung, Kunjungan Wisman ke Bukit Lempuyang Meningkat

Pada pertemaun yang berlangsung satu jam tersebut, Elvindo juga menyampaikan langsung bahwa tidak akan menggunakan kata Veda lagi dalam produk komersial mereka.

Menanggapi hal itu, KMHDI menerima pengakuan salah dari pihak Elvindo karena keterbatasan pengetahuan yang hanya diperolehnya melalui Internet. Menurutnya musyawarah adalah jalan terbaik dalam menyelesaikan sebuah permasalahan yang ada. “Kami sudah menerima pengakuan salah atau keliru dari pihak Elvindo, karena sejatinya musyawarahlah jalan terbaik dalam menyelesaikan masalah,” tutup Andre Nuaba . (kmb/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.