Umat bersembahyang di Pura Besakih. (BP/dok)

Jargon atau ajakan melestarikan local genius atau kearifan lokal sudah sangat populer di kalangan publik. Bahkan, banyak orang sudah terlalu biasa bicara soal kearifan lokal. Namun, mengimplementasikannya dalam bentuk rencana aksi dan tindakan  yang terukur masih banyak pihak yang gagap.

Untuk itulah, menjaga kearifan lokal agar tetap menjadi identitas  diri di era teknologi digital saat ini memerlukan dukungan berbagai pihak dan kajian secara keilmuan. Langkah nyata menjabarkan kearifan lokal menjadi hal yang mutlak.

Tentu, kita tak bisa hanya mengatakan bahwa kearifan lokal adalah roh dari peradaban. Untuk masuk dan melogikakan kearifan lokal agar bisa dimaknai secara nalar rasional perlu kajian-kajian yang jelas. Dengan pertimbangan kajian dan logika pikir yang jelas maka komitmen yang beruwujud pada langkah nyata mengawal kearifan lokal akan lebih mudah.

Baca juga:  Ketua MPR: Ilmu, Syarat Menjemput Masa Depan

Bagi masyarakat Bali, kearifan lokal tentu bukan sekadar istilah. Kearifan lokal bahkan telah menjadi identitas yang membuat krama Bali menyatu dengan budayanya. Kearifan lokal juga sudah menjadi identitas krama Bali.

Ke depan, kearifan lokal juga harus mulai diperkenalkan sebagai sebuah  spirit kehidupan di tengah modernisasi. Generasi muda tentu harus paham ini, sehingga mereka tak larut dalam jebakan mordernisasi.

Masalahnya, dengan hanya menyandarkan diri pada modernisasi maka ada banyak peradaban yang selama ini menjadi cermin kehidupan akan memudar. Untuk itu di saat Bali bergerak mewujudkan Bali Era Baru ada baiknya kearifan lokal diposisikan lebih strategis. Bahkan, jika memungkinkan kajian dan pengajaran terhadap hal-hal yang menunjang dan menjadi identitas kearifan lokal layak menjadi sebuah studi keilmuan.

Baca juga:  Pertanian Garam di Kusamba Prospek Menjanjikan, Tetap “Diabaikan” Generasi Muda

Makanya, ketika ada pemikiran agar kearifan lolak menjadi sebuah studi keilmuan, kita layak mendukung dan mengapresiasinya. Terlebih di banyak negara kearifan lokal sudah diajarkan sejak lama sebagai disiplin ilmu.

Sebut saja Jepang. Meskipun negara ini berkembang dan maju secara teknologi namun tradisinya masih tetap kuat. Tampaknya saat dunia bergerak menjauh dari pola-pola tradisi ke modern, kearifan lokal tetap harus mendapatkan ruang. Kita tak bisa hanya bergantung pada pengembangan teknologi tanpa mendekatkan hidup pada peradaban lokal.

Di Bali, peluang kerja sama penelitian dan pengajaran tentunya akan mudah dikembangkan. Selain sudah ada sejumlah universitas yang concern mengurusi hal ini, kepedulian banyak pihak soal kearifan lokal juga masih kuat. Ini tentu akan mempermudah merawat kearifan lokal.

Baca juga:  Belajar agar Peristiwa Membahayakan Tidak Terulang

Jika studi ini bisa berkembang maka berbagai bidang dapat dikembangkan di dalamnya, mulai dari bidang obat-obatan tradisional Bali, sejarah Bali, arkeologi Bali, sistem pertanian tradisional Bali seperti sistem subak, arsitektur Bali, landscape Bali, sesuatu dari ilmu liak tersebut seperti kajian pengobatan, kajian metafisika, dan lain-lain, yang semuanya harus dikaji secara ilmiah dengan parameter pengukuran yang sesuai dengan nilai-nilai akademis. Kajian-kajian yang dilakukan dapat berupa kajian sosial humaniora, saintek, dan berbagai kajian dalam ranah akademik lainnya. Pendeknya bagaimana mengangkat kearifan lokal Bali itu ke ranah akademik yang terukur dengan parameter ilmiah.

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.