Sejumlah perahu disandarkan di kolam dermaga PPN Pengambengan, Negara, Jembrana. (BP/olo)

NEGARA, BALIPOST.com – Cuaca buruk di pesisir Jembrana sejak Rabu (29/5) hingga Kamis (30/5) sore, membuat nelayan batal melaut. Puluhan pasang perahu selerek (purse seine) yang sudah bersiap melaut akhirnya urung begitu mendapati kondisi angin kencang di pesisir Selatan Bali itu. Beberapa nelayan yang sudah telanjur melaut terpaksa kembali ke darat.

“Kalau dipaksakan ke tengah juga sulit mencari ikan, risiko juga lebih besar karena situasi seperti itu,” terang Ilham, salah seorang nelayan di perahu selerek.

Baca juga:  Nunggak Pajak Rp 1,2 Miliar, Hotel Berbintang di Nusa Dua Dipasangi Spanduk

Hal serupa dialami nelayan perahu tradisional (jukung) yang juga sudah terbiasa melaut meskipun radiusnya tidak sampai ke laut dalam. Para nelayan memutuskan menunggu sampai cuaca kembali normalt. “Anginnya kencang, dari arah selatan dan barat. Kalau terus dilanjutkan khawatirnya perahu tidak kuat menahan arus ombak,” ujar Komang Aryana, nelayan dari salah satu desa pesisir di Negara.

Kondisi ini juga berdampak pada suasana di TPI Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Pengambengan yang sepi. Aktivitas penimbangan hasil tangkapan ikan di TPI terbesar di Jembrana itu lengang.

Baca juga:  Jaga Soliditas, Ini Dilakukan Kodam IX/Udayana

Informasi di Stasiun Klimatologi Jembrana, kecepatan angin antara 8-40 kilometer/jam. Tinggi ombak di perairan Selatan Bali antara 0,50-3,5 meter. Dengan kondisi ini BMKG Bali melansir peringatan dini untuk waspada potensi angin kencang dan tinggi gelombang laut yang dapat mencapai 2 meter lebih di Laut Bali, Selat Bali, Selat Badung, Selat Lombok dan Samudera Hindia Selatan Bali. Diperkirakan hal ini terjadi hingga Jumat (31/5) ini.

Kepala Bidang Data dan Informasi Stasiun Klimatologi Jembrana Imam Fatchurochman mengatakan, secara umum apabila beda tekanan antara selatan dan utara equator tinggi akan berdampak pada peningkatan kecepatan angin. Begitu halnya suhu dingin yang dirasakan belakangan ini. Menurutnya hal ini terjadi diakibatkan lebih sedikitnya radiasi yang diterima daratan, sehingga panas yang dilepaskan lebih cepat.

Baca juga:  Air Tukad Unda Mendadak Besar, Satu Truk Tenggelam

Konsekuensinya, udara akan lebih cepat menjadi dingin. Terutama jika di malam hari tidak ada awan, radiasi akan terlepas tanpa hambatan sehingga suhu udara akan cepat menjadi dingin. (Surya Dharma/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA *