Peserta antusias mengikuti workshop pembuatan canang sari di Sunset Mandala, Sira Village, Kamis (5/11). (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Canang sari merupakan salah satu identitas budaya Bali yang kerap ditemui di berbagai sudut sakral bagi umat Hindu. Keberadaannya, tak sekadar karya tangan dari umat, melainkan mengandung filosofi dan teologis yang mendalam. Demikian mengemuka dalam bincang buku dan workshop canang di Serangan, Denpasar, Kamis (5/11).

Menurut budayawan, I Komang Indra Wirawan, canang memiliki makna mendalam. “Canang itu merupakan salah satu identitas budaya masyarakat Hindu yang ada di Bali. Kalau dilihat dari perspektif teologinya, dia memiliki sebuah nilai makna yang sangat luar biasa. Bahwa itu merupakan simbol-simbol daripada keberadaan atau simbol Tuhan itu sendiri,” ujarnya.

Kata canang sendiri berasal dari Bahasa Jawa Kuno/Kawi, yaitu can yang berarti indah dan nang yang berarti tujuan. Sedangkan sari berarti inti atau sari.

Dalam tradisi Hindu, canang tak cuma hasil karya tangan dari janur dan bunga, melainkan sarana yadnya yang paling dasar dan dilakukan setiap hari. “Dalam konsep panca dewata itu ada warna-warna yang dihadirkan. Kalau dilihat dari segi nilai estetika, bahwa Canang itu memiliki sebuah nilai estetika seni yang sangat luar biasa,” lanjut Indra.

Baca juga:  Pemkot Diminta Turun Tangan Atasi Kisruh Rencana Pembukaan Kanal

Sementara itu, fotografer dan penulis buku Erin Sogan yang mengulas soal keberadaan canang di Bali menuturkan awal rasa penasarannya mendokumentasikan canang dari sudut pandangnya sebagai seorang pendatang.

“Mungkin alasan yang pertama adalah karena aku bisa menemukan ini dimana-mana. Letaknya itu menjadi question mark bagi aku. Kenapa ya ada canang di motor, di mobil, di stall toko, di kulkas gitu,” cerita Erin.

Ia pun menilai pengetahuan soal filosofi canang ini sangat penting diketahui wisatawan maupun pendatang di Bali. “Kita tahu di Bali banyak banget pendatang. Bukan hanya orang Bali saja, tapi orang dari seluruh Indonesia ada di Bali, mungkin berharap ketika bisa ikut acara kayak gini, bisa kenal, apa sih sebenarnya canang itu? Artinya apa? Sehingga kita bisa menghormati
kebudayaan di mana kita tinggal juga,” jelasnya

Baca juga:  Waspadai, Potensi Gelombang hingga 2,5 Meter di Selat Bali-Lombok

Selain diskusi mendalam mengenai makna teologis dan filosofis canang, kegiatan ini juga diisi pertunjukan tari tradisional dari Oemah Seni serta workshop pembuatan canang yang dipandu oleh ibu-ibu PKK dari Desa Serangan di Sunset Mandala, Sira Village.

Dua wisatawan yang ikut dalam praktik pembuatan canang, Nandya dan Ioannis mengaku sangat senang karena memperoleh pengatahuan baru soal budaya Bali.

“Menurut saya bagus karena kita jadinya mengerti bagaimana ini (canang) tercipta,
karena saat kita duduk, di jalan, di rumah ada tapi kita tidak tahu apa artinya. Ya, karena di villa kami kita melihatnya setiap hari tapi kita tidak mengerti kenapa, apa filosofinya, apa maknanya,” ungkap Nadya.

Baca juga:  Banjar Umadesa Kompak Bentuk Komunitas Peduli Sungai

Terkait pelaksanaan diskusi dan workshop soal canang ini, Kepala Departemen Komunikasi Bali Turtle Island Development (BTID), Zefri Alfaruqy, menyampaikan penyelenggaraan acara ini menjadi langkah merawat keberlanjutan tradisi dan identitas budaya Bali di tengah arus modernisasi. “Bali memiliki warisan budaya dan kearifan lokal yang telah diwariskan lintas generasi. Karena itu, kami percaya bahwa pembangunan yang bermakna bukan hanya tentang apa yang kita bangun, tetapi juga tentang apa yang kita jaga,” ungkap Zefri.

Melalui kegiatan seperti ini, pihaknya ingin menghadirkan ruang interaksi yang memungkinkan masyarakat lokal, pengunjung, dan wisatawan mengenal serta mengapresiasi budaya Bali secara lebih dekat. “Keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting, sehingga pelestarian budaya tidak hanya menjadi wacana, tetapi juga hadir melalui pengalaman dan partisipasi langsung,” tutupnya. (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN