Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III Denpasar mengimbau masyarakat mewaspadai potensi rob atau banjir pesisir di sejumlah pesisir di Bali. (BP/Antara)

DENPASAR, BALIPOST.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini potensi pasang maksimum air laut (banjir rob) di sejumlah wilayah pesisir Bali pada 8–11 November 2026. Fenomena ini dipicu fase Bulan Baru yang terjadi pada 9 November 2026 dan berpotensi meningkatkan ketinggian air laut maksimum di beberapa kawasan pesisir.

Berdasarkan peringatan dini yang diterbitkan Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III tertanggal 5 November 2026, terdapat enam wilayah pesisir Bali yang perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi pasang maksimum tersebut.

Baca juga:  Akan Jalani "Abhiseka Cokorda," Mantan Bupati Badung Gde Agung Tolak Disebut Raja

Keenam wilayah itu meliputi pesisir selatan Kabupaten Jembrana, pesisir selatan Kabupaten Tabanan, pesisir Kabupaten Badung, pesisir Kota Denpasar, pesisir Kabupaten Gianyar, serta pesisir selatan Kabupaten Klungkung.

Kepala BBMKG Wilayah III, Cahyo Nugroho menyebutkan, potensi pasang maksimum tersebut memiliki waktu kejadian yang berbeda-beda pada setiap wilayah, baik dari segi hari maupun jam. Kondisi ini berpotensi berdampak terhadap aktivitas masyarakat di sekitar pelabuhan dan kawasan pesisir.

Baca juga:  Hasilnya Mengejutkan, Ini Rerata Kualitas Guru dan Tenaga Kependidikan di Bali

Sejumlah aktivitas yang perlu diwaspadai antara lain kegiatan bongkar muat di pelabuhan, aktivitas masyarakat di permukiman pesisir, serta kegiatan tambak garam dan perikanan darat.

Cahyo Nugroho, mengimbau masyarakat agar selalu waspada dan siaga dalam mengantisipasi dampak pasang maksimum air laut. Masyarakat, khususnya yang beraktivitas di kawasan pesisir dan pelabuhan, diminta memperhatikan perkembangan informasi cuaca maritim yang dikeluarkan BMKG.

BMKG mengingatkan, kewaspadaan diperlukan selama periode peringatan dini tersebut, terutama bagi masyarakat yang aktivitas sehari-harinya bergantung pada kondisi perairan dan kawasan pesisir. (Ketut Winata/balipost)

Baca juga:  Mapepada Segara Kertih di Pura Segara Amed
BAGIKAN