Lahan pertanian di kawasan Jatiluwih, Penebel. (BP/dok)

SINGASANA, BALIPOST.com – Setelah sempat menunda masa tanam akibat debit air menurun selama musim kemarau panjang, petani di Jatiluwih, Kecamatan Penebel, kini bersiap menanam padi beras merah memasuki musim hujan. Persemaian padi beras merah mulai disiapkan pada November 2026, sedangkan penanaman diperkirakan berlangsung mulai Januari 2027.

Seperti diketahui, padi beras merah menjadi salah satu komoditas yang identik dengan pertanian Jatiluwih. Meski sempat terkendala ketersediaan air, kondisi stok beras merah di tingkat petani masih aman sehingga harga di tingkat penggilingan masih relatif normal, yakni berkisar Rp25 ribu hingga Rp30 ribu per kilogram.

Salah seorang petani Jatiluwih, Wayan Semaraja, mengatakan musim kemarau panjang memang berdampak terhadap pola tanam petani. Namun, kondisi tersebut tidak sampai menyebabkan stok beras merah menipis. “Harga masih standar dan tidak ada kenaikan signifikan karena stok di petani masih aman. Mulai Januari 2027 ini, petani akan mulai menanam beras merah,” ujar Semaraja, Kamis (5/11).

Baca juga:  Sidak Villa, Satpol PP Tabanan Temukan Sejumlah Pelanggaran

Menurutnya, sebelum memasuki musim hujan, petani sempat menunda penanaman padi putih karena debit air yang mengalir ke lahan pertanian menurun. Kondisi tersebut terjadi di wilayah Subak Jatiluwih, Tempek Gunung Sari. Semaraja mengatakan mata air di sebelah utara Gunung Sari masih mengalir, tetapi debitnya tidak mencukupi untuk mendukung jadwal tanam seperti biasanya. Penanaman padi putih yang semestinya dilakukan pada awal Agustus 2026 akhirnya ditunda hingga Oktober.

“Biasanya saat musim kemarau, jadwal tanam di Jatiluwih adalah padi putih atau hortikultura. Kemarin karena debit air kecil, tanam padi putih diundur. Sekarang sudah ditanam padi putih dan kacang tanah,” jelasnya.

Baca juga:  Peserta Tes Fisik 450 Atlet, Dicoret 350 Atlet

Memasuki musim hujan, kondisi lahan mulai mendukung persiapan tanam. Meskipun debit mata air belum sepenuhnya kembali normal, curah hujan dinilai membantu petani dalam mengolah dan menggemburkan tanah.

“Walaupun debit air nanti belum normal, hujan sangat membantu dalam pengelolaan tanah,” katanya.

Untuk tanaman beras merah, petani mulai melakukan persiapan persemaian pada November. Semaraja menyebut persemaian dilakukan sekitar 30–35 hari sebelum pengolahan tanah dan penanaman. “Petani di Jatiluwih sudah melakukan persemaian sendiri,” ujarnya.

Dari sisi harga, kondisi beras merah di Jatiluwih juga masih relatif stabil. Di tingkat penggilingan, harga berada pada kisaran Rp25 ribu hingga Rp30 ribu per kilogram. Stabilnya harga tersebut salah satunya ditopang hasil panen tahun sebelumnya yang cukup baik.

Baca juga:  Enam Penyalahguna Narkoba Diringkus Sepanjang Maret Ini, Mayoritas Pengedar

“Stok beras merah di Jatiluwih masih aman, sehingga harganya juga normal. Panen tahun lalu cukup bagus,” kata Semaraja.

Ia menyebut produksi beras merah di Jatiluwih rata-rata mencapai 5–6 ton per hektare. Dengan luas sawah sekitar 50 are, Semaraja mengaku dapat menghasilkan sekitar 2,5 ton beras merah. Sebagian besar hasil panen petani kemudian dijual kepada usaha penggilingan padi. Sebagian lainnya disimpan untuk kebutuhan konsumsi sendiri.

Beras merah yang masuk ke penggilingan selanjutnya didistribusikan ke sejumlah daerah di luar Tabanan. “Biasanya petani menjual ke usaha penggilingan padi atau menyimpannya untuk konsumsi sendiri. Nantinya usaha penggilingan yang mendistribusikannya ke luar Tabanan,” pungkasnya.(Puspawati/balipost)

BAGIKAN