Seorang pengunjung sedang berbincang-bincang dengan pedagang pangan di Pasar Badung, Denpasar. (BP/eka)

DENPASAR, BALIPOST.com – Sejak beberapa minggu terakhir harga gula pasir dan tepung mengalami kenaikan. Bahkan keberadaannya banyak hilang di pasaran. Kondisi ini pun menyulitkan pelaku UMKM terutama yang bergerak di bidang kuliner atau kue.

Berdasarkan data harga pasar Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Denpasar, Selasa (3/11), tercatat harga gula pasir sudah menyentuh Rp19.000 per kilogram. Kondisi tersebut terjadi di Pasar Badung dan Pasar Nyanggelan. Sementara, di Pasar Kereneng lebih murah Rp500 yakni Rp18.500 per kilogram.

Baca juga:  Beredar Surat Palsu BKPAD Bangli Minta Pembayaran Pajak ke Rekening Pribadi

Harga di atas pun sudah melebihi dari harga eceran tertinggi (HET) yakni Rp17.500 per kilogram. Bahkan di beberapa ritel keberadaan komoditi pokok yang memiliki rasa manis ini pun lenyap.

Kondisi yang sama diakui oleh pelaku usaha kue rumahan, Irene, di kawasan Ubung Kaja, Denpasar. Dia yang biasa membeli gula dalam jumlah banyak mengeluhkan saat ini harga gula mencapai Rp18.500 per kilogram. Sebelumnya dia membeli gula pasir seharga Rp17.000 per kilogram.

Baca juga:  TdS 2018 Berhadiah Rp 2,3 Miliar

Selain gula pasir, harga tepung terigu, dikatakannya, juga naik. Kenaikan ini sudah berlangsung cukup lama. Tepung terigu yang biasa dibelinya Rp114.000 per dus saat ini naik menjadi Rp135.000 per dua.

Demikian juga tepung ketan. Bahkan, pembelian tepung ketan sudah dibatasi yang hanya boleh membeli 2 bungkus kemasan 500 gram atau 1 kilogram. “Untuk harganya saya lupa. Karena sering kosong barangnya dan dibatasi. Jadi pas beli itu yang penting dapat aja dulu,” terangnya.

Baca juga:  Atasi Ketimpangan Ekonomi, Kemenkop Perkuat Wirausaha

Kondisi ini membuat dia kewalahan. Dia mengaku terpaksa menaikkan harga jual kue untuk memberikan kualitas yang sama. “Untungnya pelanggan mengerti, meski harga dinaikan mereka tetap membeli,” imbuhnya. (Widiastuti/bisnisbali)

BAGIKAN