
JAKARTA, BALIPOST.com – Keberagaman kopi Indonesia yang tak hanya terletak pada banyaknya daerah penghasil kopi, aroma, cita rasa, dan metode pengolahan yang membentuk karakter setiap biji kopi, membuatnya menjadi modal penting untuk memperluas pasar internasional. Demikian disampaikan Roby Wibisono dari Yayasan Pengembangan dan Edukasi Kopi (KAPPI).
Ia mengungkapkan KAPPI terus mendorong pengenalan kopi Indonesia melalui kegiatan diplomasi kopi yang menggabungkan edukasi, pengalaman mencicipi, dan interaksi langsung dengan konsumen serta pelaku industri.
Upaya ini bertujuan memperkenalkan kualitas kopi Nusantara, membuka peluang pasar, sekaligus memperoleh wawasan yang bermanfaat bagi pengembangan kopi di tingkat petani. Salah satu langkah tersebut dilakukan melalui partisipasi KAPPI dalam Indonesia Pavilion pada pameran Specialty Coffee Association of Japan (SCAJ) 2026 yang diselenggarakan pada pertengahan Oktober 2026 lalu di Tokyo Big Sight, Jepang.
Dengan dukungan Bank Indonesia (BI), KAPPI memperkenalkan sejumlah kopi dari petani binaan BI yang telah melalui proses kurasi, sekaligus memperlihatkan keragaman karakter kopi Nusantara kepada pembeli dan penikmat kopi Jepang.
Dalam pameran tersebut, KAPPI menghadirkan kopi dari Aceh Gayo, Mandheling, Java, Bali, dan Kalosi Toraja, serta kopi luwak. Melalui sesi pengenalan aroma (sniffing) dan mencicipi kopi, pengunjung diajak mengenali perbedaan karakter yang dipengaruhi oleh daerah asal dan metode pengolahan.
Pengalaman ini menjadi kesempatan untuk memperluas pengetahuan konsumen Jepang yang selama ini telah mengenal kopi Indonesia melalui nama-nama seperti Toraja dan Mandheling. Kopi dari daerah lain, termasuk Aceh Gayo dan Java, memperkenalkan spektrum cita rasa yang tidak kalah menarik.
Salah satu respons yang mencuri perhatian muncul ketika pengunjung menilai bahwa kopi robusta yang disajikan memiliki karakter rasa menyerupai arabika. Tanggapan tersebut menunjukkan bahwa kualitas dan pengolahan dapat menghadirkan pengalaman rasa yang melampaui persepsi umum terhadap jenis kopi tertentu.
“Bagi KAPPI, diplomasi kopi bukan sekadar memperkenalkan produk Indonesia di luar negeri. Kami ingin masyarakat internasional mengenal keragaman karakter kopi kita, sekaligus memahami bahwa di balik kualitas tersebut ada petani yang terus meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya. Respons dari pasar internasional juga menjadi masukan berharga untuk memperkuat edukasi dan pendampingan petani,” ujarnya.
Kehadiran KAPPI di Jepang juga memperlihatkan pentingnya kolaborasi dalam membantu kopi petani Indonesia menjangkau pasar internasional. Melalui dukungan Bank Indonesia, biji kopi dari petani dan pelaku UMKM binaan yang telah melalui proses kurasi mendapat kesempatan untuk diperkenalkan kepada calon pembeli dan pelaku industri kopi Jepang.
Deputi Gubernur Bank Indonesia, Ricky P. Gozali, menekankan pentingnya memahami selera pasar Jepang dan membawa kopi terbaik Indonesia untuk meningkatkan peluang ekspor sekaligus kesejahteraan petani.
“Kita sudah mengetahui dan mengenal betul selera penikmat kopi di Jepang. Oleh karena itu kita mencari kopi yang terbaik untuk kita bawa ke sini. Tentunya kita harapkan langkah-langkah strategis ini dapat meningkatkan ekspor dari kopi. Tujuan akhirnya tentunya kita dapat meningkatkan taraf hidup dari petaninya,” ujar Ricky.
Apresiasi terhadap keragaman kopi Indonesia juga datang dari Yozo Otsuki, CEO Kurasi, yang melihat prospek positif kopi Indonesia di pasar internasional. “Bagi saya, kopi Indonesia memiliki potensi yang sangat besar di masa depan. Saya selalu takjub melihat keanekaragaman yang ditawarkan oleh kopi Indonesia,” ungkap Otsuki. (Suardika/balipost)










