Para petani berusaha mendapatkan pasokan air dengan menggunakan mesin pompa pada sumur bor di salah satu subak di Jembrana. (BP/ist)

NEGARA, BALIPOST. com – Sumur bor menjadi solusi awal yang diandalkan untuk menyelamatkan tanaman petani di tengah kemarau panjang yang memukul sektor pertanian Kabupaten Jembrana. Melalui sistem pergiliran distribusi air dan pemanfaatan sumur bor di kawasan subak, upaya penyelamatan terus dilakukan.

Meski demikian, berdasarkan laporan resmi kerusakan tanaman akibat dampak perubahan iklim (DPI) kekeringan tahun 2026, luasan lahan pertanian yang terdampak mencapai 143,05 hektare. Dari jumlah tersebut, puluhan hektare, tepatnya seluas 89,46 hektare padi dipastikan mengalami gagal panen atau puso.

Baca juga:  Gagal Panen, Petani di Tabanan Mulai Ajukan Klaim AUTP

Krisis air ini melanda kawasan persawahan dan tegalan di lima kecamatan sekaligus, yaitu Negara, Jembrana, Melaya, Mendoyo, dan Pekutatan.

Dampak terparah dicatatkan di Kecamatan Mendoyo, di mana seluruh hamparan sawah seluas 20 hektare di Subak Yeh Mendoyo hancur mengalami puso.

Sementara itu, dari total lahan terdampak di Jembrana, baru 47,39 hektare yang berhasil dipulihkan dan 5,8 hektare lainnya masih dalam upaya penanganan darurat.

Baca juga:  Ratusan Hektare Sawah di Jembrana Alami Puso

Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, dan Pangan Kabupaten Jembrana, I Putu Eka Arta, mengatakan pihaknya terus mengawal upaya penyelamatan tanaman milik petani. Langkah mitigasi darurat diberlakukan dengan mengatur pola distribusi pasokan air, salah satunya melalui sumur bor. “Kami terus memantau situasi di lapangan dan memaksimalkan langkah penyelamatan tanaman petani, salah satunya melalui sistem pergiliran distribusi air serta pemanfaatan sarana sumur bor yang ada di kawasan subak,” ujar Eka Arta, ketika dikonfirmasi wartawan.

Baca juga:  Rumah Semi Permanen di Melaya Ludes Terbakar

Meski demikian, pasokan air baku kian menyusut tajam seiring kemarau yang berkepanjangan. Kondisi ini membuat infrastruktur air yang ada kewalahan melayani kebutuhan debit lahan pertanian secara luas.

“Kapasitas sumur bor yang tersedia di subak belum mencukupi untukmengairi seluruh hamparan lahan terdampak. Akibatnya jadwal pengairan harus digilir ketat dan terbatas, sehingga pasokan air tidak optimal bagi tanaman dan sebagian di antaranya terpaksa berakhir puso,” pungkasnya. (surya dharma/Balipost)

BAGIKAN