
DENPASAR, BALIPOST.com – Model Bahasa Besar atau Large Language Model (LLM) dengan 27 miliar parameter dikembangkan secara khusus untuk memahami bahasa Indonesia dan berbagai bahasa daerah, salah satunya Bahasa Bali. Peluncuran LLM yang diinisiasi GoTo ini dilakukan pada pelaksanaan Bali Tech Week (BTW), Senin (19/10) di Sanur, Denpasar.
Menurut Hans Patuwo, CEO Grup GoTo, model yang diluncurkan ini dikembangkan oleh talenta ahli AI (Artificial Intelligence) lokal dan merupakan kelanjutan dari inisiatif open-model yang telah dimulai sejak 2024. Setelah diluncurkan, GoTo menyediakan LLM terbaru ini secara gratis bagi startup, pelaku bisnis, universitas, peneliti, maupun institusi publik untuk digunakan, dipelajari, dan diadaptasi.
Lewat LLM ini, masyarakat dapat mengembangkan solusi AI yang lebih relevan
dengan konteks lokal tanpa harus memulai dari awal. “Indonesia telah memanfaatkan teknologi AI buatan luar negeri dengan baik. Namun, kita juga perlu mengembangkan AI buatan sendiri untuk menjawab tantangan dan kebutuhan lokal,” katanya dalam panel sesion yang menghadirkan Sekretaris Jenderal Kementerian Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Dr. Ismail.
Ia mengungkapkan AI yang dirancang untuk penggunaan global mungkin belum sepenuhnya optimal dalam memahami data lokal dan cara masyarakat Indonesia berkomunikasi, mulai dari singkatan sehari-hari hingga bahasa daerah yang digunakan sejak kecil di rumah. Lewat keterlibatan talenta lokal, LLM yang dihasilkan akan lebih akurat. “Ini sejalan dengan Visi Indonesia Digital 2045 dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) untuk menciptakan ekosistem digital yang inklusif, kolaboratif, dan berbasis inovasi. Langkah ini juga mendukung terwujudnya Indonesia yang berdaulat, maju, dan berkelanjutan dengan mendorong transformasi bangsa dari sekadar pengguna menjadi pencipta teknologi AI,” sebutnya.
Dipaparkannya, model ini dilatih menggunakan teks berbahasa Indonesia dari berbagai mitra media dan situs web sektor publik, serta data bahasa daerah. Dengan ukuran 27 miliar parameter, LLM ini diyakini mumpuni untuk menangani berbagai tugas bahasa yang kompleks, namun tetap ringan untuk dijalankan secara mandiri di peladen (server)milik universitas, startup, atau institusi publik tanpa memerlukan pusat data yang besar.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Dr. Ismail, literasi digital sangat penting agar masyarakat dapat memanfaatkan teknologi untuk kegiatan produktif, termasuk mengembangkan usaha, memperluas pasar, dan meningkatkan keterampilan.
Ia pun sepakat perkembangan teknologi membuka peluang besar bagi pertumbuhan ekonomi digital Indonesia. Pemanfaatan teknologi dapat membantu pelaku usaha meningkatkan produktivitas, memperluas jangkauan konsumen, dan menciptakan model bisnis baru.
Keberhasilan transformasi digital tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah. Implementasinya membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, perusahaan teknologi, institusi pendidikan, serta masyarakat. Kolaborasi tersebut diperlukan agar kebijakan yang disusun dapat diterapkan secara efektif dan menjawab persoalan yang muncul di lapangan. (Diah Dewi/balipost)

