
JAKARTA, BALIPOST.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Senin (5/10) bergerak melemah 35 poin atau 0,20 persen menjadi Rp17.917 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.882 per dolar AS.
Analis mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuabi menyampaikan pelemahan rupiah dipengaruhi konflik antara Ansarullah Yaman dengan Arab Saudi.
“Pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dan didukung Arab Saudi menyatakan akan meluncurkan operasi militer besar-besaran untuk merebut kembali seluruh wilayah negara yang dikuasai oleh kelompok tersebut,” ucapnya, Senin (5/10) dilansir dari Kantor Berita Antara.
Sebelumnya, kelompok Ansarullah di Yaman telah meluncurkan rudal balistik dan pesawat nirawak (drone) ke fasilitas Saudi Aramco di Riyadh dan wilayah Khurais, sebagai tanggapan atas serangan yang dipimpin Arab Saudi di Yaman.
Arab Saudi belum mengonfirmasi serangan tersebut, sehingga memicu kekhawatiran mengenai produksi di negara pengekspor utama kawasan tersebut.
“Mereka mengklaim serangan tersebut menyebabkan kebakaran hebat dan merupakan tanggapan atas apa yang mereka sebut sebagai 50 serangan udara dan rudal yang dipimpin Saudi di Yaman dalam 12 jam terakhir,” ungkap Ibrahim.
Para investor juga tengah menanti agenda ekonomi AS yang mencakup data ISM Services PMI, data ketenagakerjaan mingguan, rilis risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) terakhir, serta data sentimen konsumen dari University of Michigan.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak menguat ke level Rp17.917 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.898 per dolar AS. (kmb/balipost)










