Luh Rusmiati Sulap Kertas Bekas Jadi Kerajinan, Produknya Tembus Jepang dan Afrika. (BP/Yud)

SINGARAJA, BALIPOST.com – Tumpukan koran bekas di rumah saudaranya menjadi awal perjalanan Luh Rusmiati mengembangkan usaha kerajinan. Sejak 2016, perempuan asal Banjar Dinas Ceblong, Desa Sudaji, Buleleng, ini belajar secara mandiri mengolah kertas bekas menjadi berbagai produk bernilai ekonomi.

Awalnya, Rusmiati hanya membuat keranjang sederhana untuk tempat air mineral. Karyanya kemudian menarik perhatian hingga muncul pesanan produk lain, seperti bokor.

“Awalnya saya melihat tumpukan koran di rumah saudara. Saya ingin membuat keranjang untuk tempat air mineral. Setelah ada saudara yang tertarik dan meminta dibuatkan, akhirnya berkembang,” tuturnya saat ditemui di galerinya, Jumat (2/10).

Baca juga:  Tafsiran Produk Hukum Berkontribusi Ciptakan Perdamaian Dunia

Dari sana, usaha yang diberi nama Gegaen Lima Craft terus berkembang. Rusmiati kini menghasilkan beragam produk, mulai dari tempat pensil, nampan, tatakan gelas, gantungan kunci, hingga meja dan kursi.

Bahan bakunya berasal dari berbagai jenis kertas bekas. Koran sebagian dibeli, sedangkan kertas lainnya diperoleh dari donasi teman. Bahkan, ia menerapkan sistem barter dengan mengembalikan hasil olahan berupa tempat pensil atau nampan kecil kepada para penyumbang.

Kreativitas tersebut membawa produknya menembus pasar luar daerah. Pada 2017, Rusmiati sempat bekerja sama dengan sebuah art shop di Denpasar. Tatakan gelas dan nampan buatannya bahkan dibawa hingga ke Jepang dan Afrika.

Baca juga:  Kesenian Langka Bali Terancam Hilang, Regenerasi Pewaris Jadi Persoalan Utama

Produk kerajinannya juga diminati wisatawan yang menginap di homestay sekitar tempat usahanya dan membawanya sebagai suvenir ke negara masing-masing.

Dari usaha tersebut, Rusmiati memperkirakan omzetnya mencapai sekitar Rp5 juta per bulan, meski jumlahnya tidak selalu sama. Harga produk mulai dari Rp5 ribu untuk gantungan kunci, sementara meja dan kursi dijual berdasarkan jenis dan ukurannya.

Bagi Rusmiati, usaha ini bukan sekadar mencari penghasilan. Ia berharap kerajinan kertas bekas tersebut berkembang sekaligus membuka peluang bagi masyarakat sekitar untuk ikut berkarya.

“Harapannya usaha ini terus berkembang. Saya juga berharap ada orang-orang di sekitar yang mau ikut bersama-sama mengembangkan usaha ini,” ujarnya.

Baca juga:  Bupati Suwirta Buka Pelatihan Branding Produk dan Peningkatan Kompetensi Bidang Pariwisata

Rusmiati juga beberapa kali mengikuti pameran, seperti Lovina Festival dan Buleleng Festival. Kesempatan tersebut dinilai membantu memperkenalkan produknya kepada pasar yang lebih luas.

Perbekel Desa Sudaji, I Made Ngurah Fajar Kurniawan, mengapresiasi kreativitas Rusmiati. Menurutnya, pengolahan limbah kertas menjadi produk bernilai ekonomi memiliki peluang untuk dikembangkan hingga pasar nasional dan internasional.

“Pemerintah Desa Sudaji sangat mendukung dan mengapresiasi semangat UMKM kami,” ujarnya.

Pemerintah desa, kata Fajar, terus mendorong pelaku UMKM melalui pembinaan, motivasi, serta membangun jejaring dengan berbagai stakeholder, terutama dalam menghadapi kendala permodalan dan pemasaran. (Yudha/balipost)

 

BAGIKAN