Ketua Umum DPP Partai Golkar, Bahlil Lahadalia saat memberikan arahannya seusai melantik jajaran Pengurus DPD Partai Golkar Provinsi Bali masa bakti 2025-2030, di Monumen Gong Perdamaian Dunia, Desa Budaya Kertalangu, Kesiman Kertalangu, Denpasar, Sabtu (3/10) malam. (BP/win)

DENPASAR, BALIPOST.com – Ketua Umum DPP Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, menegaskan Partai Golkar merupakan partai terbuka yang tidak dimiliki oleh keluarga, kelompok, perusahaan, maupun orang tertentu. Penegasan itu disampaikan Bahlil dalam arahannya seusai melantik jajaran Pengurus DPD Partai Golkar Provinsi Bali masa bakti 2025-2030 di Monumen Gong Perdamaian Dunia, Desa Budaya Kertalangu, Kesiman Kertalangu, Denpasar, Sabtu (3/10) malam.

Bahlil mengatakan, karakter Golkar tidak dapat dilepaskan dari sejarah kelahirannya. Menurutnya, sejarah merupakan fondasi penting bagi kader untuk menentukan langkah partai ke depan.

Ia menyebut Golkar memiliki proses kelahiran yang berbeda dibandingkan dengan partai politik lainnya. Pada awalnya, Golkar bukanlah partai politik, melainkan kekuatan politik bernama Golongan Karya.

“Partai Golkar awalnya bukan partai. Dia adalah kekuatan politik yang namanya Golongan Karya,” ungkapnya.

Bahlil menjelaskan, gagasan pembentukan Golongan Karya tidak terlepas dari kondisi politik dan ekonomi Indonesia setelah Pemilu 1955. Menurutnya, kondisi tersebut mendorong para tokoh bangsa membangun wadah yang kemudian berkembang menjadi Sekretariat Bersama (Sekber) Golongan Karya.

Ia menyebut terdapat 97 organisasi yang menjadi bagian dari kekuatan tersebut. Unsurnya berasal dari berbagai kelompok masyarakat. Mulai petani, nelayan, guru, karyawan, organisasi kepemudaan, hingga unsur TNI dan Polri serta berbagai organisasi kemasyarakatan.

Karena itu, Bahlil menegaskan Golkar tidak dilahirkan oleh satu kelompok masyarakat tertentu.

Baca juga:  Puluhan Anak TK Keracunan Nasi Bungkus

“Partai Golkar tidak dilahirkan oleh satu kelompok masyarakat tertentu, apalagi keluarga tertentu. Partai Golkar dilahirkan dari kandungan rakyat Indonesia,” tegasnya.

Menurut Bahlil, kondisi tersebut menjadi dasar mengapa Golkar dikenal sebagai keluarga besar. Ia menekankan tidak ada keluarga tertentu yang memiliki Golkar.

“Partai Golkar tidak dimiliki oleh saham keluarga tertentu. Tidak juga dimiliki oleh perusahaan tertentu atau orang kaya tertentu. Partai Golkar adalah partai terbuka,” katanya.

Ia juga mengajak generasi muda yang ingin terjun ke dunia politik untuk menjadikan Golkar sebagai salah satu wadah perjuangan untuk kepentingan rakyat.

Bahlil kemudian mengingatkan bahwa Golkar mengalami perubahan menjadi partai politik setelah era reformasi. Sebelumnya, Golongan Karya merupakan salah satu kekuatan politik dalam sistem politik pada masa Orde Baru.

Dalam konteks politik saat ini, Bahlil meminta seluruh kader Golkar tidak memandang partai politik lain sebagai musuh. Menurutnya, Golkar harus membangun hubungan baik dengan seluruh kekuatan politik, termasuk partai-partai yang berada dalam koalisi pemerintahan.

“Jangan kita menganggap bahwa partai lain itu adalah lawan kita. Golkar tidak pernah menilai lawan. Karena Golkar selalu berdamai dengan semua warna,” ujarnya.

Bahlil menyebut sejumlah partai politik saat ini memiliki sejarah keterkaitan dengan dinamika politik Golkar. Karena itu, ia menggambarkan hubungan antarkekuatan politik tersebut sebagai satu rumah dengan kamar yang berbeda.

Baca juga:  Golkar Resmi Keluar, DPRD Bali Pastikan Pansus TRAP Tetap Bekerja Hingga 6 Oktober

Ia juga membuka ruang bagi kader maupun pihak-pihak yang pernah berada di Golkar dan kemudian berpindah ke partai lain untuk kembali bergabung.

“Kalau sudah tidak nyaman di rumah yang lain, rumah kalian bersama selalu terbuka,” ujarnya.

Dalam arahannya, Bahlil juga meminta seluruh jajaran Golkar Bali meningkatkan perolehan kursi di semua tingkatan legislatif. Ia mengatakan target nasional partai adalah meningkatkan jumlah kursi DPR RI pada pemilu mendatang.

“Target kita harus menaikkan kursi. Dari 102 di DPR ini harus 102 lebih,” katanya.

Karena itu, ia meminta DPD Golkar Bali bekerja meningkatkan perolehan kursi di DPRD Provinsi Bali maupun DPRD kabupaten/kota.

Bahlil juga menegaskan Golkar akan konsisten mendukung pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Menurutnya, konsistensi tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan keputusan partai.

Ia meminta kader Golkar yang berada di lembaga eksekutif maupun legislatif di berbagai tingkatan ikut berada di garis depan dalam mendukung dan mengawal program pemerintah.

“Kalau ada yang kurang, berikanlah masukan yang baik,” ujarnya.

Bahlil menekankan politik Golkar harus diarahkan sebagai politik kerakyatan dan kebangsaan. Partai, menurutnya, harus menjadi instrumen pengabdian dan perjuangan bagi masyarakat.

“Jadikan partai sebagai instrumen pengabdian. Jadikan partai sebagai instrumen perjuangan. Dan jadikan partai sebagai instrumen ibadah,” katanya.

Baca juga:  Badung Siapkan Seratus Konselor HIV-AIDS

Dalam kesempatan tersebut, Bahlil juga menyinggung pembangunan energi bersih di Bali. Ia menyebut Bali memiliki posisi strategis karena dikenal sebagai destinasi pariwisata dunia dan menjadi daerah yang sangat berkaitan dengan isu lingkungan serta energi hijau.

Ia mengaitkan hal tersebut dengan program pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berskala besar yang telah diluncurkan di Bali.

Menurut Bahlil, pembangunan energi bersih di Bali tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan energi, tetapi juga dapat memperkuat citra Bali sebagai destinasi pariwisata yang mengedepankan keberlanjutan.

“Kalau membangun bangsa, mempromosikan Bali, kita harus satu. Kampanye Bali sebagai energi bersih harus bisa kita tawarkan,” ujarnya.

Di akhir arahannya, Bahlil meminta jajaran Golkar Bali menjaga kekompakan. Pesan tersebut secara khusus disampaikan kepada Ketua DPD Partai Golkar Bali, Gde Sumarjaya Linggih atau yang akrab disapa Demer.

Ia mengingatkan bahwa dalam kepemimpinan tidak ada manusia yang sempurna. Perbedaan pandangan maupun dinamika internal, menurutnya, merupakan bagian dari proses organisasi yang harus diselesaikan dengan komunikasi dan kebersamaan.

“Saya yakin sekalipun ada kiri kanan, ada orang suka, tidak suka, biasa. Tidak ada manusia sempurna,” katanya.

Bahlil kemudian menutup arahannya dengan mengajak seluruh kader meneriakkan slogan “Golkar Solid, Indonesia Maju” sebagai penegasan pentingnya soliditas partai menghadapi agenda politik ke depan. (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN