
DENPASAR, BALIPOST.com – Korban pembakaran hidup-hidup berinisial IGS yang merupakan seorang sopir truk asal Karangasem, mengalami luka bakar 68 persen pada tubuhnya. Korban kini masih menjalani perawatan intensif di ICU RSUP Prof. Dr. I.G.N.G Ngoerah, Denpasar, dalam kondisi belum stabil dan belum sadar.
Kepala ICU RSUP Prof. Ngoerah, Dr. dr. I Putu Kurniyanta, Sp.An-TI, Subsp.An.Pe.(K), saat diwawancarai, Selasa (22/9) mengatakan korban tiba di rumah sakit pada 18 September 2026 sekitar pukul 19.00 Wita setelah sebelumnya mendapat penanganan awal di Puskesmas Rendang dan kemudian dirujuk ke RSUD Karangasem.
Setibanya di RSUP Prof. Ngoerah, tim medis langsung melakukan sejumlah tindakan, mulai dari pembersihan luka, pengamanan jalan napas hingga pemberian bantuan pernapasan. Tindakan tersebut dilakukan karena dokter mencurigai korban mengalami cedera akibat menghirup udara atau uap panas saat kejadian. “Kecurigaan kami adalah terhirup uap panas. Ketakutan kami ke depan adalah pembengkakan jalan napasnya, sehingga perlu kami amankan jalan napasnya,” ujar dr. Kurniyanta.
Sementara itu, Spesialis Bedah Plastik RSUP Prof. Ngoerah, Dr. dr. Agus Roy Rusly Hariantana Hamid, Sp.BP-RE (K), mengatakan saat pertama tiba korban masih dapat berkomunikasi. Namun, dari pemeriksaan ditemukan luka bakar pada bagian dada yang hampir melingkar hingga ke bagian belakang.
Kondisi tersebut menjadi salah satu pertimbangan dokter untuk segera melakukan intubasi atau pemasangan selang untuk mengamankan jalan napas korban. “Selain terhirup udara panas, ada lingkaran luka bakar yang melingkar dari dada depan sampai dada belakang. Sehingga saya waktu itu memutuskan untuk dilakukan intubasi dulu untuk secure airway-nya,” jelasnya.
Dari pemeriksaan, luka bakar yang dialami korban mencapai sekitar 68 persen dan tergolong cukup dalam. Dokter menemukan luka bakar derajat 2B hingga derajat 3. Kondisi tersebut diduga berkaitan dengan pakaian yang masih menempel ketika korban mengalami luka bakar. Tim medis telah melakukan pencucian dan pembersihan luka, termasuk mengangkat jaringan yang mengalami kerusakan. Perawatan luka akan terus dilakukan secara bertahap sembari memantau kondisi korban.
Untuk saat ini, korban masih sengaja ditidurkan dengan bantuan obat-obatan dan tetap menggunakan ventilator. Menurut dokter, tindakan tersebut bukan berarti korban tidak sadar secara spontan. Korban diberikan obat penenang dan penghilang rasa sakit agar dapat menerima bantuan ventilator dengan baik sekaligus mengurangi rasa nyeri akibat luka bakar yang luas.
Rencana untuk melakukan weaning atau penyapihan dari ventilator juga masih ditunda. Hasil pemeriksaan terakhir menunjukkan masih terdapat kondisi pada paru-paru yang membutuhkan pemantauan lebih lanjut, termasuk kemungkinan adanya sisa jelaga atau asap yang terhirup.
“Rencana dari kemarin kita mau lakukan weaning. Namun dari hasil foto terakhir masih ada sisa-sisa jelaga atau asap yang masuk ke dalam paru-paru. Itu masih membutuhkan waktu untuk bisa di-weaning,” kata Dr. Roy.
Luka bakar yang melingkari bagian dada menjadi salah satu persoalan serius yang harus ditangani. Dokter menjelaskan, luka bakar yang mengelilingi dada dapat membuat pergerakan dada menjadi terbatas sehingga menyulitkan korban bernapas secara mandiri. Kondisi tersebut membuat korban untuk sementara harus dibantu mesin ventilator. Dokter masih menunggu kondisi paru-paru lebih baik dan jalan napas dinilai aman sebelum menentukan tindakan berikutnya.
Selain penanganan terhadap saluran pernapasan, perawatan luka juga akan dilakukan secara berkala. Apabila kondisi luka sudah bersih dan tidak terdapat jaringan mati, tim medis dapat melakukan tindakan cangkok kulit atau tandur kulit. Kulit untuk tindakan tersebut dapat diambil dari bagian tubuh korban, seperti paha, kemudian ditempelkan pada area luka bakar untuk mempercepat proses penyembuhan sekaligus mengurangi risiko infeksi. “Kalau lukanya sudah bersih, tidak ada jaringan skar, kita bisa lakukan pengambilan tandur kulit. Transplant kulit dari paha pasien untuk kita tempel,” ujar Dr. Roy.
Dengan luas luka mencapai 68 persen, tindakan cangkok kulit tidak dapat dilakukan dalam satu kali operasi. Pengambilan kulit dapat dilakukan secara bertahap dari bagian tubuh yang memungkinkan, kemudian dievaluasi kembali setelah luka donor sembuh.
Dokter juga menyebut pasien dengan luka bakar seluas itu berpotensi membutuhkan sejumlah tindakan operasi selama masa perawatan. Namun jumlah tindakan dan lamanya perawatan sangat bergantung pada perkembangan kondisi pasien, terutama terkait infeksi, kondisi paru-paru, serta proses penyembuhan luka.
Saat ini, fokus tim medis adalah mempertahankan kondisi korban tetap stabil, menangani luka bakar, menjaga fungsi pernapasan, serta mencegah terjadinya infeksi. Evaluasi lanjutan akan dilakukan secara berkala untuk menentukan tahapan penanganan berikutnya. (Widiastuti/balipost)










