
NEGARA, BALIPOST.com – Video dugaan pembakaran lahan seluas 1,2 hektare di hutan kawasan Taman Nasional Bali Barat (TNBB), Cekik, Gilimanuk, viral di media sosial belakangan ini. Lahan hutan yang rimbun itu dibakar hingga menyisakan tanda tanya. Beredar isu, tanaman di kawasan hutan Cekik akan diganti dari tanaman keras dan semak-semak menjadi rumput.
Plt. Kepala TNBB Gilimanuk, Adang Bayu Pamungkas, membenarkan lahan di hutan tersebut dibersihkan. Ia menjelaskan, awalnya pada Senin (12/10) lalu muncul beberapa titik api di sekitar kawasan Cekik yang diduga
akibat aktivitas pencari madu.
Melihat ada beberapa titik lahan yang terbakar, tim Manggala Agni TNBB melakukan pemadaman. Selanjutnya, petugas resor Gilimanuk membersihkan
lahan yang berpotensi menjadi penyebaran api, yakni jenis krinyu dan tanaman kerasi, untuk mengantisipasi kebakaran meluas.
“Awalnya lahan hutan ini pada Senin (12/10) lalu ada beberapa titik api di sekitar kawasan Cekik yang diduga akibat aktivitas pencari madu,” jelas Adang, ketika dikonfirmasi wartawan, Sabtu (24/10).
Sementara itu, Kepala Seksi Wilayah I TNBB, Isai Yusidarta, mengatakan kegiatan tersebut merupakan pembinaan habitat. Taman Nasional merupakan ekosistem asli yang dikelola dengan sistem zonasi untuk pengembangan pengetahuan, pendidikan, dan penelitian yang menunjang budidaya, wisata, dan kegiatan pemanfaatan lainnya.
“Tanaman kerasi dan kerinyu bukan tanaman asli hutan Cekik. Itu adalah tanaman alien spesies invasif. Maka sudah sewajarnya dimusnahkan,” jelasnya.
Menurutnya, ekosistem asli Hutan Cekik adalah Padang Savana atau padang rumput. Untuk mengembalikan ekosistem asli itu, dilakukan pembinaan habitat dengan memusnahkan tanaman kerasi dan kerinyu.
Pelaksanaannya dengan pembabatan kerasi dan kerinyu, lalu ditumpuk kecil-kecil. Selanjutnya dilakukan pembakaran terkendali. “Biji rumput Padang Savana akan ditebar ketika musim hujan dimulai dengan harapan biji rumput Padang Savana bisa tumbuh bagus. Dan ekosistem asli hutan Cekik berupa Padang Savana dapat kembali lagi sesuai dengan definisi Taman Nasional,” pungkasnya. (Surya Dharma/balipost)








