Bekerja sama dengan Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Korwil Buleleng, Pemdes Gobleg menggelar kegiatan vaksinasi rabies sekaligus sterilisasi anjing secara gratis di Banjar Dinas Asah, Minggu (20/9). (BP/Istimewa)

SINGARAJA, BALIPOST.com – Pemerintah Desa Gobleg, Kecamatan Banjar, mulai mengambil langkah serius untuk mengendalikan populasi anjing yang terus meningkat di wilayahnya. Bekerja sama dengan Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Korwil Buleleng, Pemdes Gobleg menggelar kegiatan vaksinasi rabies sekaligus sterilisasi anjing secara gratis di Banjar Dinas Asah, Minggu (20/9).

Kegiatan tersebut melibatkan sekitar 30 dokter hewan. Selain mendapatkan vaksinasi rabies, anjing milik masyarakat juga mendapat layanan sterilisasi, baik anjing jantan maupun betina. Program ini menjadi salah satu upaya untuk menekan pertumbuhan populasi anjing sekaligus mengantisipasi risiko penyakit rabies di wilayah Desa Gobleg.

Perbekel Gobleg, Made Separsa, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk kolaborasi antara Pemerintah Desa Gobleg dan PDHI Korwil Buleleng. Menurutnya, pengendalian populasi anjing perlu dilakukan sejak sekarang mengingat jumlah anjing di wilayah Gobleg tergolong cukup tinggi.

Baca juga:  Ditinggal Petik Cengkeh, Rumah Terbakar

“Populasi anjing di Gobleg sudah cukup banyak. Karena itu, kami perlu mengambil langkah antisipasi, bukan hanya dengan vaksinasi, tetapi juga melalui sterilisasi. Dengan cara ini, pertumbuhan populasi bisa kita kendalikan secara bertahap,” ujar Made Separsa.

Berdasarkan data yang dimiliki pemerintah desa, sedikitnya terdapat sekitar 911 ekor anjing yang telah terdata di wilayah Gobleg. Namun, jumlah tersebut belum menggambarkan keseluruhan populasi anjing yang ada. Masih terdapat anjing yang belum terdata, termasuk anjing liar yang kerap ditemukan berkeliaran di jalan maupun di lingkungan permukiman.

Baca juga:  Anjing Rabies Gigit Pemiliknya

“Yang terdata sekitar 911 ekor. Tetapi di lapangan masih ada yang belum terdata, termasuk anjing-anjing liar yang berkeliaran. Kalau digabungkan, jumlahnya bisa lebih dari 1.000 ekor,” katanya.

Kondisi tersebut, kata Separsa, menjadi perhatian pemerintah desa. Selain berpotensi menyebabkan pertumbuhan populasi yang tidak terkendali, keberadaan anjing yang tidak terdata juga membuat pengawasan terhadap kesehatan dan status vaksinasinya menjadi lebih sulit.

Karena itu, kegiatan vaksinasi rabies tetap menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan penyakit. Pemerintah Desa Gobleg bersama pihak terkait secara rutin melakukan vaksinasi terhadap anjing yang ada di wilayah tersebut.

Baca juga:  Waspada Virus Nipah, Warga Diimbau Tak Konsumsi Buah Bekas Gigitan Hewan

“Vaksinasi rabies tetap kita lakukan. Tetapi sekarang kita mulai memperkuat langkah lain, yaitu sterilisasi atau KB anjing. Harapannya, populasi anjing bisa ditekan sehingga lebih mudah didata, dipantau, dan ditangani,” jelasnya.

Ia mengatakan sterilisasi tidak hanya ditujukan untuk mengurangi jumlah kelahiran anjing, tetapi juga menjadi bagian dari upaya penataan populasi anjing di desa. “Dengan jumlah populasi yang lebih terkendali, pemerintah dan masyarakat diharapkan lebih mudah melakukan pemantauan terhadap anjing peliharaan maupun anjing yang berkeliaran di lingkungan warga,” tutupnya. (Nyoman Yudha/balipost)

BAGIKAN