Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Karangasem kembali mengusulkan warisan budaya daerah untuk dapat ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia.(BP/istimewa)

AMLAPURA, BALIPOST.com – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Karangasem kembali akan mengusulkan warisan budaya daerah untuk dapat ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia.Tahun ini, Disbudpar mengusulkan Tari Rejang Pala dari Desa Nongan, Kecamatan Rendang untuk jedi WBTb tersebut.

Kepala Disbudpar Karangasem, I Putu Eddy Surya Artha, Kamis (17/9) mengungkapkan, Tari Rejang Pala menjadi satu-satunya warisan budaya yang diusulkan tahun ini karena berdasarkan hasil pengecekan ke lapangan, tarian tersebut dianggap layak untuk masuk WBTb. Karena memiliki keunikan tersendiri dan sejarah panjang.

Baca juga:  Tiga Warisan Budaya Denpasar Ditetapkan Jadi WBTB

“Sebenarnya masih banyak warisan budaya Karangasem yang belum masuk WBTb. Nanti akan kami usulkan secara bertahap tiap tahunnya. Dan untuk tahun ini, hanya ada satu warisan budaya yang kami usulkan yaitu Tari Rejang Pala,” ujarnya.

Eddy Surya Artha mengatakan, Tari Rejang Pala merupakan tari sakral yang diwariskan melalui Pura Balang Tamak, Desa Nongan, Kecamatan Rendang. Tarian tersebut berkaitan erat dengan pelaksanaan Usaba Pala, yakni ritual sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat atas kelimpahan hasil pertanian.

Baca juga:  Tradisi Wong Perau dan Tari Canglongleng Diusulkan Jadi WBTb

“Nama Rejang Pala berkaitan erat dengan fungsi ritualnya dalam pelaksanaan Usaba Pala. Salah satu ciri khasnya adalah penggunaan aneka buah-buahan sebagai bagian dari gelungan atau hiasan yang ada di kepala penari. Buah-buahan yang digunakan seperti rambutan, salak, jeruk, boni, kepundung, serta berbagai hasil kebun lainnya dirangkai menjadi hiasan penari. Buah tersebut tidak hanya memperindah tampilan, tetapi juga menjadi simbol rasa syukur atas hasil bumi sekaligus memiliki makna religius dan filosofis,” katanya.

Baca juga:  Penyimpanan Kopi dan Cengkeh Ludes Terbakar

Diamenjelaskan, tari ini dibawakan secara berkelompok oleh penari perempuan dalam rangkaian upacara keagamaan. Rejang Pala juga menjadi bagian dari Usaba Desa di Pura Pesamuhan Agung dan digunakan untuk menyambut Ida Betara Dalem dalam prosesi upacara. “Pementasan Rejang Pala tidak berdiri sebagai pertunjukan seni semata. Tarian ini hadir dalam konteks ritual dan menjadi bagian dari kehidupan religius serta agraris masyarakat Desa Nongan,” imbuhnya. (Eka Parananda/balipost).

 

BAGIKAN