Petugas BPBD Karangasem mendistribusikan air bersih ke masyarakat saat musim kemarau. (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Dasarian II September 2026 ini Bali masih berada pada periode musim kemarau. Selain potensi kekeringan meteorologis, masyarakat diminta mengantisipasi ancaman kebakaran yang dapat meningkat akibat kondisi kering.

Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD)  Provinsi Bali, I Gede Teja, mengatakan berdasarkan peringatan dini cuaca dan iklim Dasarian II September 2026, secara umum Bali masih berada dalam periode musim kemarau. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena dapat memicu sejumlah bencana hidrometeorologi, terutama kekeringan dan kebakaran.

“Secara umum wilayah Bali pada Dasarian II September 2026 masih mengalami periode musim kemarau. Masyarakat kami imbau untuk tetap waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi,” ujar Teja, Jumat (11/9).

Berdasarkan prakiraan cuaca 10 harian, pada 11-13 September 2026 terdapat potensi hujan ringan di sejumlah wilayah, meliputi Badung, Denpasar, Gianyar, Klungkung, Tabanan, Jembrana, Bangli, Karangasem, dan Buleleng.

Baca juga:  Naik ke Puncak Gunung Agung, Sejumlah Pemedek Alami Kram Kedinginan

Potensi hujan ringan tersebut juga masih diprakirakan terjadi pada periode 14-16 September 2026 di wilayah yang sama. Sementara pada 17-20 September 2026, hujan ringan kembali berpotensi terjadi di Badung, Denpasar, Gianyar, Klungkung, Tabanan, Jembrana, Bangli, Karangasem, dan Buleleng.

Meski terdapat potensi hujan ringan, Gede Teja tetap meminta masyarakat tidak menganggap kondisi tersebut sebagai berakhirnya musim kemarau. Sebab, pada periode 11-20 September 2026 masih terdapat peringatan dini kekeringan meteorologis.

Sebaliknya, untuk periode tersebut tidak terdapat peringatan dini curah hujan tinggi. Kondisi ini menunjukkan bahwa ancaman kekeringan masih perlu mendapat perhatian dibandingkan potensi hujan ekstrem.

Kewaspadaan terhadap kondisi kering juga berkaitan dengan perkembangan parameter iklim. Berdasarkan data yang disampaikan BBMKG Wilayah III, anomali suhu muka laut (SST) di wilayah Nino3.4 pada Agustus 2026 mencapai +2,83, yang masuk dalam kategori kondisi El Nino.

Baca juga:  Pantai Utara Kedonganan Dikembangkan Kawasan Mina Wisata

Sementara itu, nilai anomali SST wilayah Nino3.4 pada periode Juni-Juli-Agustus (JJA) 2026 tercatat +2,22, yang menunjukkan adanya kejadian El Nino dengan intensitas sangat kuat.

BMKG memprakirakan kondisi El Nino 2026 masih akan bertahan hingga awal 2027. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam menghadapi periode kemarau dan potensi kekeringan di Bali.

Teja mengingatkan masyarakat agar melakukan langkah antisipasi sejak dini. Salah satunya dengan menghemat penggunaan air, terutama karena Bali masih menghadapi periode musim kemarau.

“Penggunaan air agar dilakukan secara hemat sebagai langkah antisipasi memasuki dan menghadapi kondisi musim kemarau,” sarannya.

Baca juga:  Pohon Tumbang Timpa Truk di Desa Giri Emas

Selain persoalan ketersediaan air, masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran. Warga diingatkan tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu api, seperti membakar lahan dan sampah secara sembarangan maupun membuang puntung rokok di tempat yang mudah terbakar.

Ia juga mengingatkan masyarakat untuk memperhatikan keamanan rumah. Sebelum meninggalkan rumah, warga diminta mencabut colokan listrik yang tidak digunakan serta memastikan dupa yang menyala telah dimatikan.

“Jangan lupa menjaga daya tahan tubuh dengan mengonsumsi makanan bergizi dan cukup beristirahat,” tambahnya.

Teja juga mengajak masyarakat secara rutin memantau perkembangan informasi cuaca serta peringatan dini yang dikeluarkan BMKG dan BPBD, sehingga langkah mitigasi dapat dilakukan lebih cepat apabila terjadi perubahan kondisi cuaca maupun ancaman bencana. (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN