
JAKARTA, BALIPOST.com – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyampaikan perkembangan terbaru aktivitas Gunung Anak Krakatau, Kamis (10/9). Berdasarkan analisis citra satelit hingga pukul 13.00 WIB, sebaran abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau sudah tidak terdeteksi.
Meski demikian, aktivitas Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga. Masyarakat, wisatawan maupun pendaki tetap diminta untuk tidak melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan rekomendasi keselamatan tetap harus dipatuhi meski sebaran abu vulkanik tidak lagi terpantau melalui citra satelit.
“Kami sedikit melakukan update Gunung Anak Krakatau bahwa aktivitas masih berada di Level III atau artinya Siaga. Pada status level ini tentu otoritas kegunungapian tetap merekomendasikan masyarakat, wisatawan, ataupun pendaki untuk tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 km dari kawah aktif,” kata Berton dilansir dari Kantor Berita Antara.
Berton mengatakan, hasil analisis citra satelit menunjukkan tidak ada lagi sebaran abu vulkanik yang terdeteksi pada Kamis siang.
Sementara itu, Kementerian Kesehatan RI masih terus melakukan pemantauan terhadap dampak kesehatan masyarakat di wilayah yang terdampak abu vulkanik. Juru Bicara Kementerian Kesehatan RI, drg. Widyawati, mengatakan laporan kumulatif infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA di wilayah terdampak mencapai 68.919 kasus.
“Situasi ISPA pada wilayah terdampak abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau, laporan kasusnya terkini adalah ada 68.919 kumulatif kasus ISPA,” kata Widyawati.
Menurut data yang disampaikan Kementerian Kesehatan, sebanyak 14.439 kasus tercatat pada kelompok usia 0 hingga 5 tahun, sedangkan 54.480 kasus lainnya terjadi pada kelompok usia di atas 5 tahun. Kasus tersebut tersebar di empat provinsi dan 23 kabupaten/kota yang terdampak.
Kementerian Kesehatan juga menyiapkan sejumlah langkah untuk mengantisipasi dampak kesehatan lanjutan akibat paparan abu vulkanik.
“Strategi penanganannya ada di promotif kesehatan. Seperti biasa kita akan lakukan edukasi dan juga promosi kesehatan pengurangan risiko, lakukan pemantauan penyakit, melaksanakan surveilans kualitas udara dan dampak kesehatan, serta tetapkan surat edaran kesiapsiagaan dampak kesehatan,” ujar Widyawati.
Untuk memperkuat pelayanan kesehatan di daerah terdampak, pemerintah menyiapkan layanan darurat 119 di kabupaten/kota, ratusan pos pelayanan kesehatan hingga rumah sakit. “Kami siapkan pos pelayanan sebanyak 830, menyiapkan 413 rumah sakit, mobilisasi bantuan kesehatan,” katanya.
Kementerian Kesehatan kembali mengingatkan masyarakat untuk melindungi diri dari paparan abu vulkanik, terutama dengan menggunakan masker serta membatasi aktivitas di luar ruangan apabila tidak mendesak.
“Imbauan kami dari hari Minggu adalah gunakan masker, lindungi diri Anda dari abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau. Kalau tidak perlu sekali, jangan keluar rumah,” pungkasnya. (kmb/balipost)










