Sejumlah calon penumpang dari penerbangan terdampak antre untuk mendapatkan layanan petugas di area Terminal Domestik Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Badung, Bali, Minggu (6/9/2026). Pengelola Bandara Bali mencatat hingga Minggu sore terdapat 42 penerbangan yang mengalami pembatalan dan penyesuaian jadwal akibat dampak dari peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau. (BP/Antara)

DENPASAR, BALIPOST.com – Erupsi Gunung Anak Krakatau berdampak terhadap sejumlah penerbangan domestik dari dan menuju Bali, terutama penerbangan yang melalui Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta. Kondisi tersebut turut memengaruhi mobilitas wisatawan domestik yang hendak kembali dari Bali.

Hal tersebut disampaikan Gubernur Bali, Wayan Koster saat diwawancarai usai mengikuti Rapat Paripurna ke-48 DPRD Bali di Kantor DPRD Bali, Senin (7/9).

Gubernur Koster mengatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan pihak terkait di Bandara Soekarno-Hatta untuk menangani dampak gangguan penerbangan akibat erupsi Gunung Anak Krakatau.

“Sehingga penerbangan menuju Soekarno-Hatta dan ke daerah lain yang connect dengan Soekarno-Hatta, termasuk penumpang kita di Bali yang mau balik ke Jakarta kemarin tidak bisa,” kata Koster.

Menurutnya, penumpang yang terdampak telah ditangani oleh pihak maskapai. Sejumlah penumpang juga terpaksa memperpanjang masa tinggalnya di Bali akibat penerbangan yang belum dapat dilakukan.

Koster menyebut para penumpang dapat memahami kondisi tersebut karena gangguan penerbangan terjadi akibat faktor alam.

“Penumpang sangat memahami situasi karena ini adalah peristiwa alam. Tidak bisa balik. Itu pada mulanya menambah hari untuk menginap di Bali,” ujarnya.

Baca juga:  Aktivitas Gunung Anak Krakatau Mereda

Di tengah gangguan terhadap penerbangan domestik, Koster memastikan aktivitas penerbangan internasional menuju Bali tidak mengalami gangguan berarti.

“Kalau yang berkaitan dengan penerbangan internasional yang ke Bali sama sekali tidak ada gangguan. Kita berjalan dengan lancar. Jadi tidak ada masalah,” tegasnya.

Kondisi tersebut, kata Koster, membuat sektor pariwisata Bali dari pasar internasional masih relatif aman. Bahkan, kunjungan wisatawan mancanegara disebut masih menunjukkan peningkatan secara tahunan atau year-on-year.

“Pariwisata kalau internasional tidak ada masalah. Ada sedikit peningkatan dari year-on-year-nya,” katanya.

Namun, situasi berbeda terjadi pada pasar domestik. Gangguan penerbangan melalui Jakarta berdampak terhadap pergerakan wisatawan domestik menuju Bali.

Koster menjelaskan, Jakarta menjadi salah satu jalur utama penerbangan domestik menuju Bali, sehingga gangguan di Bandara Soekarno-Hatta ikut berpengaruh terhadap arus penumpang ke Pulau Dewata.

“Kalau yang domestik tentu saja ini terganggu,” ujarnya.

Dalam kondisi normal, Koster menyebut jumlah penumpang penerbangan domestik di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai berada pada kisaran 12.000 hingga 16.000 penumpang per hari. Namun, pada Minggu (6/9), terjadi penurunan yang cukup signifikan akibat gangguan penerbangan tersebut.

Baca juga:  Terancam Punah, Petani Garam Tanpa Regenerasi

“Hari kemarin itu praktis mengalami penurunan jauh,” ungkapnya.

Koster mengatakan dirinya masih akan mengecek perkembangan kondisi penerbangan pada Senin (7/9).

Koster berharap aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau segera berakhir sehingga konektivitas penerbangan melalui Bandara Soekarno-Hatta kembali normal.

Ia menilai normalisasi penerbangan penting bukan hanya bagi Bali, tetapi juga bagi daerah-daerah lain yang memiliki konektivitas penerbangan melalui Jakarta.

“Kita berharap mudah-mudahan erupsi Anak Gunung Krakatau bisa segera berakhir. Sehingga penerbangannya dari Soekarno-Hatta ke Bali dan juga ke daerah lain agar bisa normal,” katanya.

Koster pun mengajak seluruh pihak berdoa agar kondisi segera kembali normal.

“Mari kita berdoa semua,” ujarnya.

Selain penerbangan, Koster juga menyinggung kondisi arus penyeberangan di kawasan Gilimanuk, Jembrana, yang sempat mengalami antrean kendaraan. Menurutnya, persoalan tersebut berkaitan dengan pekerjaan fisik di sisi Ketapang, Jawa Timur, bukan di Pelabuhan Gilimanuk.

Koster mengaku telah berkoordinasi dengan Kementerian Perhubungan mengenai kondisi tersebut. “Yang di Gilimanuk itu saya sudah koordinasi dengan Kementerian Perhubungan. Itu memang karena ada pekerjaan di Ketapang,” jelasnya.

Baca juga:  Baru Pertama Kali, Lari 374 Km di Bali

Pekerjaan tersebut, dikatakan, berkaitan dengan rencana perluasan kawasan penyeberangan di Ketapang. Pekerjaan dilakukan lebih awal sebagai bagian dari persiapan menghadapi arus mudik Lebaran 2027.

“Kelihatannya akan ada perluasan. Karena kan macet sekali untuk mengantisipasi mudik Lebaran 2027. Jadi dikerjakan dari sekarang,” ujarnya.

Namun, pekerjaan fisik yang berlangsung saat ini membuat kapasitas dan manuver kendaraan di kawasan tersebut menjadi terbatas sehingga berpotensi menimbulkan antrean.

Koster menyebut kondisi antrean sebelumnya telah berhasil dikurangi. Berdasarkan pemantauan terakhir, antrean kendaraan masih berada pada kisaran 4 hingga 5 kilometer.

“Kemarin sudah bisa diatasi. Antreannya masih ada kira-kira 4 sampai 5 kilometer. Saya akan segera lagi komunikasi supaya kalau bisa, bisa dipercepat lagi,” katanya.

Ia memahami bahwa kondisi geografis di kawasan Ketapang memang menjadi salah satu tantangan dalam mengatur arus kendaraan dan penyeberangan.

“Ketapang itu kan tidak terlalu luas. Memang tidak banyak manuver yang bisa dilakukan untuk mengatasi penyeberangan dari Ketapang,” pungkas Koster. (Ketut Winata/balipost)

 

BAGIKAN